SLEMAN- Masih ingat Iwan Setiawan? Warga Condongcatur, Depok yang mencukupi hidup dengan menjadi tukang parkir, namun punya tekad tinggi untuk bisa duduk di bangku kuliah. Sempat putus sekolah karena tak ada biaya, Iwan terpaksa meneruskan pendidikan dengan mengambil kejar paket C. Hebatnya, Iwan bisa lulus dengan nilai ujian nasional di atas rata-rata. Prestasi itulah yang membawanya hingga memperoleh beasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta Jogjakarta.

Mengetahui fenomena itu Bupati Sleman Sri Purnomo mengacungkan dua jempol tangan. Apalagi cita-cita Iwan yang memilih jurusan perfilman karena berharap bisa mengajak anak-anak jalanan kelak turut berkarya.
“Sangat mulia niatnya itu. Saya apresiatif. Semoga ke depan tumbuh lebih banyak anak-anak seperti dia (Iwan),” ujar SP, sapaan akrabnya.
Seiring sejalan, SP berkomitmen terus mengupayakan terwujudnya pendidikan wajib 12 tahun bagi anak-anak Sleman. Seperti telah dicanangkannya sejak 2009. Salah satu wujud konkretnya adalah pengalokasian bantuan social pendidikan, yang tiap tahun selalu ditingkatnya nilainya.
Setiap siswa SMK dari kalangan keluarga kurang mampu digelontor Rp 2,4 juta per tahun, sedangkan SMA Rp 2,04 juta. Dana yang dicairkan per caturwulan diharapkan bisa menjadi modal bagi setiap anak di Sleman mengenyam pendidikan dasar setingkat SMA atau sederajat, sementara siswa SD dan SMP telah digratiskan dengan sistem bantuan operasional sekolah (BOS).
Tak cukup sampai di situ, SP juga berinisiatif mengundang seluruh pimpinan perguruan tinggi di Sleman. Kepada para rektor, SP mengimbau agar mereka menerima sebanyak mungkin siswa berprestasi dari Sleman yang memiliki minat kuat meskipun dari keluarga miskin. “Jangan sampai anak-anak dari keluarga tidak mampu hanya menjadi penonton, sedangkan Sleman adalah gudangnya perguruan tinggi di Jogjakarta,” ungkapnya.
Ada lagi program bidik misi, dimana siswa dengan bakat dan prestasi nonakademis juga bisa masuk perguruan tinggi dengan beasiswa. SP meyakinkan para pimpinan perguruan tinggi akan potensi sumber daya manusia (SDM) Sleman. SP berharap, jumlah lulusan SMA yang diterima di perguruan tinggi dengan beasiswa terus meningkat. Dengan begitu ke depan akan ada banyak sarjana berkualitas dari kalangan keluarga tidak mampu. “Jika pemerintah pusat mencanangkan bekerja, bekerja, bekerja, di Sleman saya upayakan anak-anak bisa terus belajar, belajar, dan belajar,” tekadnya.
Di sisi lain, SP mengimbau para pemangku sekolah membuat komunitas siswa yang disesuaikan dengan karakter dan minat. Untuk menciptakan kesibukan positif, agar siswa terhindar dari aksi klithih dan tawuran. Juga mengakomodasi pertemuan antarsiswa lain sekolah dalam kegiatan semacam outbound, pramuka, atau sejenisnya. Dari saling mengenal satu sama lain, potensi tawuran akan terminimalisasi.(yog/mg1)