JOGJA – Penyelenggaran Pekan Budaya Tionghoa (PBTY) 2017 selama satu minggu, 5-11 Februari 2017, terbukti mampu menarik lebih banyak pengunjung. Tidak hanya itu, uang yamg beredar selama gelaran PBTY ke-12 itu hingga malam jelang penutupan diklaim mencapai Rp 2,7 miliar.

“Transaksi yang dihitung dari 130 stan yang dibuka pada PBTY tahun ini, selama sepekan ini mencapai Rp 2,7 miliar atau sekitar Rp 280 juta per hari,” ujar Ketua Panitia PBTY 2017 Ana Haryadi Suyuti saat penutupan PBTY 2017 di panggung utama Ketandan, Sabtu malam (11/2) lalu.

Bukan hanya dari nilai transaksi saja, jumlah pengunjung ke PBTY 2017 juga mencapai 80 ribu orang lebih. “Dibandingkan sebelumnya yang lima hari tentu naik drastis,” sambungnya.

Ana mengatakan, pengunjung yang datang bukan hanya warga Jogja dan sekitarnya saja. Menurut dia, banyak wisatawan, termasuk dari mancanegara yang juga sengaja hadir ke PBTY. Menurut Ana, tema Pelangi Budaya Nusantara yang diusung kali ini menjadi daya tarik wisatawan untuk datang.

“Karena PBTY kali ini penuh keragaman, tidak semata budaya Tionghoa, tapi juga budaya Indonesia. Bahkan ada penampil dari India dan Jepang,” jelasnya.

Menurut Ana, PBTY yang merupakanide dari dosen pertanian UGM Murdiati Gardjitodan sudah berlangsung selama lebih dari 10 tahun menandakan kuatnya akulturasi budaya di Jogja. Karena itu dalam setiap gelaran PBTY, pihaknya tidak lupa mneyuguhkan acara yang menunjukan akulturasi budaya. Seperti sarasehan batik.

“Akulturasi budaya itu yang menyatukan Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Wakil Gubernur DIJ Paku Alam (PA)X. Menurut dia, masyarakat Tionghoa yang sudah menetap sejak lampau di Jogja, turut punya andil membentuk DIJ seperti saat ini.

Akulturasi budaya lokal Jogja dan Tionghoa sejak lama terjadi dan tidak ada persoalan. Tapi, sikap represi pemerintah saat itu, dinilainya membuat warga Tionghoa tercerabut dari budayanya sendiri. “Akibatnya mereka jadi asing dengan budaya nenek moyangnya sendiri, PBTY ini bisa menjadi pengingat,” ujarnya.

Selain itu, Adipati Kadipaten Pakualaman itu juga mengatakan, gelaran PBTY menjadi bukti adanya budaya Tionghoa yang perlu dikenalkan. Budaya Tionghoa disebutnya juga mendukung kekayaan budaya nusantara lainnya. “Adanya PBTY ini membuka wawasan semua warga, betapa kayanya budaya yang dimiliki,” ujarnya. (pra/ila/mg2)