RADARJOGJA.CO.ID – Di Kulonprogo, koalisi parpol pengusung yang lebih banyak menjadi modal besar paslon Hasto Wardoyo-Sutedjo. Namun, modal koalisi partai yang besar tidak akan berarti apa-apa, jika masing-masing parpol tak mampu mempertahankan perolehan suara Pileg 2014.

Sementara, paslon nomor urut 1 Zuhadmono Azhari-BRAy Iriani Pramastuti juga mengerahkan kekuatan penuh untuk memenangkan Pilbub Kulonprogo 2017. “Salah satunya harus bisa masuk ke kantong-kantong suara partai koalisi pendukung lawan,” ungkap Tim Sukses Paslon Zuhad-Iriani, Yusron Martofa.

Artinya, jika mampu menggunakan strategi yang tepat dalam menghidupkan mesin partai, maka tidak menutup kemungkinan sukses Pilbup Bantul 2015 lalu bisa terjadi di Kulonprogo. Dimana calon petahana mampu ditumbangkan pasangan Suharsono-Abdul Halim Muslih yang hanya didukung tiga partai koalisi (Gerindra, PKB, dan PKS).
Pada Pilbub 2017, paslon Hasto-Sutedjo diusung tujuh partai, PDIP, PAN, Golkar, PKS, Nasdem, Hanura, dan PPP. Paslon Zuhad-Iriani didukung koalisi PKB, Gerindra, dan Demokrat.

Jika dilihat dari perolehan suara koalisi parpol pengusung Hasto-Sutedjo di Dapil 1 (Temon, Wates, Panjatan) dapat 47.981 suara. Sedangkan partai pendukung Zuhad-Iriani 18.990 suara. Sehingga untuk persaingan di Dapil I (Kecamatan Temon, Wates dan Panjatan), berdasarkan dari hasil perolehan suara Pileg 2014 dimenangkan paslon Hasto-Tedjo dengan selisih mencapai 28.991 suara.

Dapil 2 (Kecamatan Pengasih, Kokap) juga sama, suara koalisi parpol pengusung Hasto-Sutedjo totalnya 32.666 suara. Sedangkan suara koalisi parpol pengusung Zuhad-Iriani 18.098 suara. Di Dapil 3 (Girimulyo, Samigaluh, Kalibawang) parpol Hasto-Sutedjo berhasil mendulang 37.911 suara. Untuk partai koalisi Zuhad-Iriani 12.639 suara.

Di Dapil 4 (Sentolo dan Nanggulan) suara koalisi parpol Hasto-Sutedjo 29.300 suara. Partai pendukung Zuhad-Iriani 15.531 suara. Di Dapil 5 (Galur dan Lendah) parpol Hasto-Sutedjo dapat 33.051 suara. Partai Zuhad-Iriani 10.709 suara.

Dari situ, peta kekuatan politik paslon nomor urut 2 lebih unggul. Namun politik tidaklah mudah, terlebih dengan regulasi baru baik PKPU atau Perbawaslu, tahapan dan sistem pemilu khususnya dalam proses kampanye berubah. Kampanye terbuka hanya digelar sekali. Gantinya adalah debat publik yang digelar sebanyak tiga kali. Selebihnya mata awam sangat sulit untuk mendeteksi pergerakan tim sukses dan masing-masing paslon. (tom/ila/ong)