Berbarengan memanasnya aksi demonstrasi Forum Pengawal Demokrasi di depan kantor KPU Kota Jogja yang memaksa masuk untuk bertemu komisioner kemarin sore (24/2), di dalam ruang rekapitulasi juga kembali memanas. Hal itu karena Panitia Pengawas (Panwas) Kota Jogja tiba-tiba meminta suara tidak sah di TPS 4 Kotabaru Gondokusuman, yang sebelumnya dinyatakan tidak sah, dimasukkan suara sah.

Saat rekomendasi itu disampaikan, rapat rekapitulasi suara baru selesai membuka 11 kotak suara tidak sah di TPS 12-21 Muja-Muju Umbulharjo. Dari 11 kotak surat suara tidak sah tersebut dibuka sesuai rekomendasi dari Panwas Kota Jogja, setelah rekomendasi Panwascam Umbulharjo tidak dijalankan PPK Umbulharjo.

Meski dibuka secara sampling, dua surat suara tiap TPS, Panwas merekomendasikan di TPS 14 Muja-Muju satu suara yang tidak sah dinyatakan sah untuk Paslon IP-Fadli. Akhirnya KPU Kota Jogja menjalankan rekomendasi itu dengan mengubah perhitungan suara di TPS 14 Muja-Muju.

“Sesuai rekomendasi Panwas, jumlah surat suara tidak sah kita renvoi (perbaikan), juga peroleh suara Paslon satu di TPS 14 Muja-Muju dan Umbulharjo,” ujar Wawan.

Saat proses renvoi dilakukan dan belum disahkan, tiba-tiba Ketua Panwas Kota Jogja Agus Muhammad Yasin mengajukan interupsi terkait dua surat suara tidak sah di TPS 4 Kotabaru, yang sehari sebelumnya (23/2) dinyatakan tetap tidak sah oleh KPU Kota Jogja, menjadi sah untuk paslon IP-Fadli. Agus beralasan kemarin tidak dimintai rekomendasi oleh KPU Kota Jogja. “Panwas tetap bekerja profesional dan berintegritas rekomendasi dan sikap Panwas untuk menyelamatkan hak warga,” ujarnya.

Jelas saja argumen Agus terbaru membuat saksi Paslon HS-HP Nurcahyo Nugroho meradang. Nurcahyo mempertanyakan kinerja Panwas Kota Jogja karena baru merekomendasikan suara sah setelah sehari ditetapkan. Konsistensi Panwas Kota Jogja dipertanyakan dan dinilai tidak menghargai proses perhitungan di KPPS maupun KPU Kota Jogja. “Kenapa tidak kemarin protes, KPU sudah memutuskan tidak sah Panwas membolak-balik keputusan tanpa dasar apa pun,” kecamnya.

Ia pun menuding kehadiran Komisioner Bawaslu RI Nasrullah saat pleno rekapitulasi kemarin menjadi penyebabnya. Nurcahyo mengaku mendengar saat Nasrullah hadir di antara Panwas dan Panwascam, dan membahas temuan kejadian sehari sebelumnya yang menemukan coblosan berupa lubang besar. “Saat itu komisioner Bawaslu bilang harusnya sah, apakah itu yang membuat Panwas berubah pikiran,” ujarnya setengah bertanya.

Saksi utama paslon IP-Fadli, Fokki Ardiyanto sendiri tidak banyak berkorban terkait hal itu, baik perubahan perolehan suara di TPS 14 Muja-Muju maupun TPS 4 Kotabaru. Hal itu karena mereka mempertanyakan konsistensi KPU Kota Jogja. Saat membuka kembali kotak suara tidak sah di TPS 4 Kotabaru, 18 surat suara tidak sah dibuka semuanya, sedang di 11 TPS di Muja-Muju hanya sampling dua surat suara tiap TPS. “Secara prosedur saja tidak konsisten, kami tidak menyetujui perbaikan meski ada tambahan suara,” tegasnya.

Meskipun begitu, adanya tiga suara tidak sah yang akhirnya dinyatakan sah untuk Paslon IP-Fadli tersebut, membuat Fokki kembali meminta untuk semua surat suara tidak sah Pilwali Kota Jogja untuk dihitung ulang. Hal itu karena terbukti ada tiga surat suara tidak sah yang akhirnya dinyatakan sah di KPU Kota Jogja dan satu suara di PPK Kotagede.

Karena permintaan terakhir mereka tidak dituruti, akhirnya pada pukul 17.45 Fokki dan saksi paslon IP-Fadli menyatakan meninggalkan proses perhitungan suara alias WO (walk out). “Sebagai wujud menghargai hak konstitusi rakyat dan hak dasar memilih dan dipilih, karena permintaan terakhir kami membuka kotak suara tidak sah tidak dipenuhi, kami meninggalkan lokasi perhitungan suara,” ujar Fokki. (pra/laz/mg2)