RADARJOGJA.CO.ID – Korban siding paripurna Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI,Senin (3/4) lalu Muhammad Afnan Hadikusumo mengambil sikap tegas. Tak hanya melaporkan dua senator pelaku yang membanting dirinya. Afnan pun menolak dengan pemilihan Ketua DPD RI memilih Oesman Sapta Oidang (OSO).

Penolakan tersebut, banyak melanggar aturan. Pertama mengenai waktu pimpinan Ketua DPD. Sesuai dengan keputusan Mahkamah Agung, masa jabatan Ketua DPD tetap lima tahun. Rencana perubahan dengan Penyusunan Tata Tertib DPD RI untuk mengubah durasi menjadi 2,5 tahun telah ditolak MA.

Afnan tak hanya sendiri menolak keberadaan Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) tersebut. Ada banyak rekannya, salah satunya senator dari Sulawesi Barat Asri Anas. Ia memastikan, dukungan terhadap OSO tak memenuhi syarat.

Mantan Ketua Pansus penyusunan Tata Tertib DPD RI itu menilai ada sebagian anggota DPD RI yang memaksakan dengan aturan perubahan pimpinan DPD RI tiap 2,5 tahun. Padahal itu sangat jelas menabrak aturan. “Terserah mereka, harusnya yang melantik pimpinan DPD RI kan MA, tapi mereka menabrak aturan MA, tidak tahu itu,” jelasnya.

Afnan dan Asri juga sama-sama meinilaiDPD yang akhirnya memilih Oesman Sapta Odiang menyalahi aturan. Pemilihan hanya dihadiri 52 anggota dari total 131 anggota saat ini. Pemilihan juga dilakukan pada selasa dini hari pukul 02.00. “Biasanya pukul 02.00 orang bangun untuk Tahajud,” ujar Asri.

Orang Bugis ini juga menilai pemilihan Oesman berasa sangat politis. Sebab, Oesman sendiro juga ketua partai politik Hati Nurani Rakyat (Hanura). Padahal DPD adalah perwakilan daerah bukan perwakilan partai.”Terus apa bedanya dengan DPR, sekarang DPD berasa partai, saya dulu orang partai tapi mengundurkan diri,” katanya. (pra/eri)