RADARJOGJA.CO.ID – PURWOREJO – Pemilihan waktu penyerahan hasil kelulusan sore hari tidak membuat siswa surut dari coret-coret dan konvoi kemarin (2/5). Lebih sedikit dari jumlah siswa yang lulus secara keseluruhan, aksi mencolok itu tetap menyita perhatian masyarakat.

Pantauan Radar Jogja, konvoi terlihat di sepanjang Jalan Tentara Pelajar-Jalan Jenderal Sudirman dalam kelompok kecil. Namun di seputaran Alun-Alun Purworejo mereka terlihat lebih banyak dan sempat memutari kawasan itu.

Beberapa siswa tampak tidak memakai helm dan menggunakan knalpot di luar standar. Hanya aksi mereka terpantau rapi, sehingga tidak mengganggu penguna jalan yang lain.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kabupaten Purworejo Ki Gandung Ngadina mengatakan, pengumuman kelulusan tingkat SMK di Kabupaten Purworejo dilakukan serentak kemarin. Tidak ada aturan waktu bagi dalam penyerahan hasil kelulusan, hanya dari pemerintah provinsi ditentukan setelah pukul 14.00.

“Kemarin hari Minggu sore kami menerima hasil nilai ujian nasional dan langsung kami rapatkan bersama teman-teman kepala SMK di Purworejo hingga pukul 09.00,” kata Gandung yang juga Kepala SMK TKM Purworejo ini.

Dari pertemuan itu disepakati jika pengumuman akan dilakukan pada pukul 16.00 atau selebihnya. Pemilihan waktu diharapkan akan meminimalisasi aksi negatif dari para siswa dalam merayakan kelulusannya.

“Jadi kalau waktunya sudah mepet mendekati magrib anak-anak tidak mungkin akan berbuat yang tidak-tidak terlalu lama,” tambah Gandung.

Dikatakan, sekolah memiliki cara berbeda-beda dalam memberikan hasil kelulusan peserta didiknya. Hanya saja, pengumuman akan diberikan langsung kepada orang tua siswa.

Disinggung soal kelulusan secara keselurhan tingkat kabupaten, Gandung mengatakan kemungkinan ada siswa yang tidak lulus. Ketidaklulusan siswa itu dikarenakan beberapa sebab. Meskipun pihak sekolah bisa saja meluluskan anak-anak yang dibawah kemampuan umumnya, ia yakin sekolah tidak akan memaksakan diri.

“Memberikan kelulusan kepada siswa dengan cara dipaksakan saya rasa akan merugikan sekolah sendiri. Karena akan berpengaruh kepada citra sekolah,” tegas Gandung. (udi/laz/ong)