RADARJOGJA.CO.ID – Kota Jogja dikenal sebagai kota visual art. Banyak perupa ternama di level nasional maupun internasional tinggal di sini. Selain itu, setiap pekan, bisa dilihat ada pameran seni rupa yang digelar.

Sayangnya, kiprah para seniman dibiarkan hidup sendiri oleh pemerintah. Padahal, mereka merupakan aset potensial. Di sisi seniman sendiri, meski ide-ide berkarya luar biasa, hanya sebagian kecil dari mereka yang memahami manajemen.

Karena alasan itu, Dunadi pematung ternama di Jogja membangun ‘Pendhapa Art Space,’ yang berada di Ring Road Selatan atau sisi timur perempatan Ring Road Jalan Bantul.

“Niat kami adalah membuat ruang yang didedikasikan buat dunia seni dan masyarakat lokal maupun internasional,” kata Dunadi, Rabu (4/5).

Pria lulusan ISI Jogja tahun 1988 ini meneruskan, Pendhapa Art Space yang dikelola Ganes, anaknya diharapkan menjadi salah satu ruang dari banyak ruang alternatif seni di DIJ menjadi tempat berkumpul, bertemu, berdiskusi, dan saling berbagi pengetahuan seni serta budaya. Baik lewat pertunjukan maupun pameran.

Dunadi menambahkan, Pendhapa Art Space diupayakan punya aktivitas sepanjang hari. Kini, Ganes tengah merancang calendar event.

Di antaranya, awal Mei 2017, tepatnya Sabtu malam (6/5), diadakan pameran lukisan 27 perupa realis. Di antaranya, Hari Budiono, Budi Ubrux, Totok Buchori, Ivan Sagita, Melodia, Bambang Herras, dan Dunadi, dimana kurator yang dipercaya adalah Suwarno Wisetrotomo.

Pameran tersebut menandai diresmikan ruang baru Pendhapa Art Space di lantai atas. Pameran ini dibuka Vice President PT Sritex Solo Iwan Kurniawan Lukminto.

“Pameran ini sekaligus ajang silaturahmi para seniman dan untuk membina link atau jaringan,” ungkap Dunadi.

Selama ini, Pendhapa yang dibangun sejak 2006 dan mulai buka untuk umum pada 2011. Tahun 2012, diubah menjadi Art Space dan banyak kegiatan digelar. Beberapa kali di ruang depan diselenggarakan pementasan wayang kulit.

Pada akhir Maret 2017, dipakai Garin Nugroho (sineas) untuk mementaskan karyanya “Pager Bumi ;Jalan Menuju Sunyi”.

Dalam perkembangannya, Pendhapa Art Space lebih diintensifkan dengan membuka ruang untuk pameran seni rupa. Tahun depan, akan dbangun 15 kamar di halaman tengah yang dilengkapi panggung terbuka.

“Para tamu bisa menginap di sini dan bisa bertemu serta berdialog dengan para seniman. Mereka juga bisa berkarya membuat kerajinan,” jela Dunadi.

Pendhapa Art Space bisa dikatakan sebagai destinasi wisata komplit. Para tamu bisa residensi sekaligus belajar berkarya membuat kerajinan, melihat pertunjukan, menikmati karya lukis perupa Jogja, termasuk berdialog dengan para perupa.

“Para perupa juga bisa lebih berkonsentrasi membuat karya, tanpa perlu sibuk memikirkan ruang pamer,” katanya.

Dunadi minta ada perhatian pada perupa di Jogjakarta. Ia berharap pemerintah memfasilitasi transportasi yang membawa wisatawan berkunjung ke galeri yang diupayakan para perupa. Misal, menyediakan transport gratis dari bandara atau hotel untuk mengunjungi galeri-galeri.

“Kalau tak ada perhatian, saya sudah terpikirkan untuk menyediakan transport gratis,” janji Dunadi.(hes)