RADARJOGJA.CO.ID – KULONPROGO – Objek wisata (Obwis) Mangrove di Pedukuhan Pasir Kadilangu dan Pasir Mendit, Desa Jangkaran, Temon semakin terkenal. Bahkan banyak dikunjungi wisatawan. Banyak pihak menilai, obwis yang berada persis di ujung landasan pacu New Yogyakarta International Airport (NYIA) itu akan berkembang besar jika bandara telah beroperasi dua tahun ke depan.

Namun, masih ada persoalan atau kendala yang harus dihadapi, yakni akses menuju obwis Mangrove tersebut. Terlebih dua pedukuhan di Desa Jangkaran itu bisa dikatakan terisolasi, terjepit di sisi selatan Desa Jogoboyo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo. Sementara di sisi timurnya Sungai Bogowonto.

Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo menuturkan, sudah lama melihat potensi dua pedukuhan ini. Obwis Mangrove di dua pedukuhan ini akan menjadi wisata andalan di Kulonprogo.

“Satu persoalan yang masih harus dicarikan jalan keluarnya yakni akses masuk menuju objek wisata tersebut,” ucapnya kemarin (30/5).

Dijelaskan, ada tiga opsi yang memungkinkan untuk diambil. Yakni membeli tanah di wilayah Purworejo untuk akses masuk menuju lokasi atau membuat jembatan penghubung di sisi timur Pedukuhan Pasir Kadilangu. Jika bisa dibeli, maka akan lebih mudah mengelola atau mengaturnya, karena menjadi asset milik Pemkab Kulonprogo. Sementara itu, jika membuat jembatan biayanya jelas cukup mahal, karena sungainya sangat lebar.

“Cukup memungkinkan membuat jembatan apung seperti di Cilacap, namun untuk itu juga perlu dilakukan kajian secara detail,” jelasnya.

Salah satu Pengelola Obwis Mangrove Septian Wiyanta menyatakan, pihaknya menyambut baik perhatian Bupati Kulonprogo yang ingin memajukan wisata Mangrove. “Kalau yang dipilih membeli tanah, saya kira bagus. Tentunya harus dilakukan pembicaraan antara gubernur DIJ dan dan Jateng,” ucapnya.

Sementara opsi membuat jembatan apung juga dinilai tak kalah bagus, lanjutnya, hanya saja kajiannya memang harus benar-benar dilakukan secara matang. Terutama terkait data banjir sungai yang terjadi dan bagaimana tipikal muara Sungai Bogowonto.

“Sungai Bogowonto kalau banjir biasanya sampai permukaan tebing sungai, namun kalau pas banjir besar, bisa meluap sampai perkampungan. Itu yang harus dipikirkan,” lanjutnya.

Menurutnya, hal yang tak kalah mendesak saat ini yakni kerawanan di titik masuk ke obwis. Koordinasi antara Kabupaten Kulonprogo (DIJ) dan Purworejo (Jateng) harus segera dilakukan. “Titik masuk di Jalan Daendels menuju Wisata Mangrove sejauh ini sangat rawan kecelakaan. Mungkin perlu dipasang lampu merah atau rambu yang cocok,” ucapnya. (tom/ila/ong)