RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Pemerintah cukup beruntung dengan kesigapan petugas keamanan Bandara Internasional Adisutjipto, Jogjakarta, yang telah menggagalkan upaya penyelundupan baby lobster, Rabu (31/5). Potensi kerugian negara hingga Rp 2 miliar pun urung terjadi.

Kepala Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Jogjakarta Suprayogi mengungkapkan, operasi tangkap tangan dilakukan terhadap dua tesangka, Yohanes Ton Nggono dan Murdiono. Ketika itu, keduanya membawa 12.934 ekor baby lobster dalam 29 kantong plastik beroksigen. Dikemas dalam dua travel bag. Yohanes membawa 10 kantong dengan 4.460 ekor, sedangkan sisanya dibawa Murdiono. Keduanya berniat menyelundupkannya ke Batam menggunakan maskapai Lion Air dengan nomor penerbangan JT 0277. Hasil investigasi sementara, baby lobster selanjutnya akan dikirim ke Vietnam. Kedua tersangka adalah kurir jaringan putus.

“Kasus seperti ini bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya ada dua kasus serupa (penyelundupan) di Adisutjipto,” ungkap Suprayogi di Kantor PT Angkasa Pura I kemarin (2/6).

Dikatakan, bisnis lobster di luar negeri memang cukup menggiurkan. Menurutnya, harga lobster siap panen di Vietnam mencapai Rp 150 ribu per ekor.

Suprayogi menegaskan, tindakan dua tersangka merupakan pelanggaran pasal 31 ayat (1) Undang Undang Nomor 19 Tahun 1992 tentang Merek. Keduanya terancam hukuman kurungan selama tiga tahun dan denda Rp 150 juta.

Lebih lanjut dikatakan, penangkapan dan distribusi baby lobster memang tidak dilarang secara penuh. Namun, ada batasannya. Termasuk dalam kondisi tidak bertelur. Ketentuan ini diatur dalam Peraturan Menteri Perikanan Nomor 56 Tahun 2016 tentang Penangkapan Benih Lobster dan Rajungan.

Melihat kronologisnya, Suprayogi menduga jaringan penyelundupan yang dilakukan dua tersangka tersebut tergolong profesional. Dari pola yang digunakan melalui kurir putus. Sehingga jika kurir tertangkap, aparat tidak mudah melacak jaringan utama.

Yohanes sendiri bukan pertama kali ini saja berusaha menyelundupkan baby lobster. Dia diketahui pernah menyelundupkan barang yang sama melalui Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Namun, ketika itu dia lolos dari pengawasan petugas.

Kedatangan Yohanes ke Jogjakarta difasilitasi oleh tersangka lain berinisial S, yang kini masih buron. Termasuk akomodasi dan penginapan. “Mereka menginap di satu hotel yang sama. Bahkan satu kamar, tapi tidak saling kenal. Ketika berangkat ke bandara menggunakan dua taksi yang berbeda,” beber Suprayogi.

Upaya pembongkaran jaringan penyelundup akan diawali dari lokasi penangkaran baby lobster. Melihat kondisi benihnya, Suprayogi menengarai, pusat penampungannya ada di wilayah Jogjakarta atau Klaten, Jawa Tengah. Itu lantaran saat akan diselundupkan kondisi baby lobster masih segar. Sementara lokasi penangkaran bibitnya diduga di perairan Jawa Timur atau Cilacap, Jawa Tengah.

Guna mempermudah penyelidikan dan penyidikan, Suprayogi melibatkan aparat Bareskrim Polri.

Kini sebagian besar baby lobster yang disita dari tangan tersangka telah dilepas di Pantai Drini, Gunungkidul, Rabu (31/5) malam. Disisakan 200 ekor sebagai barang bukti di persidangan.

General Manager PT Angkasa Pura I Bandara Internasional Adisutjipto, Jogjakarta Agus Pandu Purnama mengungkapkan, penangkapkan tersangka dilakukan pukul 10.05. Baby lobster teridentifikasi melalui X- ray. Petugas yang curiga lantas menggeledah seluruh bawaan para tersangka.

Agus mengakui, jalur Jogjakarta menjadi pilihan utama para penyelundup baby lobster. Selain Adisutjipto, Bandara Internasional Lombok dan Djuanda di Sidoarjo merupakan tiga dari 13 bandara yang dikelola Angkasa Pura I paling sering menjadi sasaran penyelundupan.

Di Jogjakarta kasus serupa sudah tiga kali terjadi. Sebelumnya pada 28 April lalu. Saat itu petugas keamanan bandara menggagalkan upaya penyelundupan sekitar delapan ribu baby lobster yang dikemas dalam 22 kantong kain kasa. “Modus ini tergolong ekstrem karena hampir mengelabuhi petugas,” katanya.

Sampai kapan pun Agus tak mau kecolongan, meski modus operandi pelaku selalu berubah-ubah. Upaya antispasi dilakukan dengan memperketat pengawasan oleh petugas dan screening dengan dua pendeteksi X-ray.

Menurut Agus, salah satu modus yang sering dilakukan, pelaku sengaja berangkat mepet waktu keberangkatan pesawat. Dengan harapan petugas screening terburu-buru saat pengecekan barang bawaan penumpang. Kendati demikian, petugas tetap wajib melakukan prosedur standar pemeriksaan secara total. Keberadaan kamera CCTV cukup membantu untuk memantau kedatangan calon penumpang. (dwi/yog/ong)