RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) DIJ masih mendapati produk makanan mengandung zat berbahaya. Selama dua minggu terakhir sedikitnya 75 kilogram mi basah berformalin disita. Kemarin (12/6) mi dengan ciri fisik mengkilat dan tidak bergerombol itu dimusnahkan dengan cara dibakar di halaman kantor BBPOM setempat.

Kepala BBPOM DIJ I Gusti Ayu Adhi Arya Patmi mengungkapkan, barang bukti mi berformalin disita dari SAH, seorang distributor yang mengaku memperoleh produk tersebut dari Pasar Muntilan, Kabupaten Magelang. Rencananya, mi tersebut akan dipasok ke pedagang di Pasar Piyungan, Bantul.

“Lihat ini kuningnya mengkilap dan tidak bergerombol,” kata Arie, sapaan akrabnya, sambil menunjukan ciri fisik mi berformalin sebelum memusnahkannya.

Kepastian mi mengandung formalin setelah petugas mengujinya di laboratorium. Ayu menegaskan, formalin adalah zat berbahaya yang dilarang penggunaannya untuk produk makanan. Sebab, formalin memiliki sifat karsinogenik, yakni bisa memicu sel-sel kanker.

Ditegaskan, perbuatan SAH melanggar UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. “Distributor kami proses hukum. Sementara para pedagang pasar yang menjual mi tersebut kami bina agar tak lagi menjual produk serupa,” tuturnya.

Peredaran mi berformalin bukanlah perkara baru. Setiap tahun selalu ada temuan kasus serupa. Sebagaimana saat Ramadan tahun lalu. BBPOM mendapati mi berformalin yang disuplai dari Klaten, Jawa Tengah.

Arie mengakui, investigasi kasus makanan mengandung zat berbahaya butuh waktu lama. Terlebih, produsen mi berformalin biasanya berasal dari luar DIJ. Kendati demikian, BBPOM tak mau kecolongan. Setiap kali ada temuan makanan berbahaya di DIJ, penelusuran dilakukan hingga produsen.
Tak henti-hentinya Arie mengimbau calon konsumen untuk lebih jeli memilih bahan makanan. Menurutnya, semakin sering dirazia, produsen nakal juga kian pintar mengakali produknya.

Makanan dengan bahan Rhodamin B, misalnya. Dilihat secara kasat mata zat kimia sintetis identik warna merah itu cenderung terang. Produsen nakal mengakalinya dengan mencampur bahan lain supaya warna yang dihasilkan tidak terlalu menyala. Seperti kerupuk dan lanting. Dua produk dengan zat berbahaya itu menjadi temuan lain BBPOM selama separo Ramadan ini.(dya/yog/ong)