RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – “Peace, love, and friendship!” teriak para siswa SD dan SMP Bhinneka Tunggal Ika (BTI) saat menginjakkan kaki memasuki sekolah mereka di Jalan Kranggan, Kota Jogja kemarin (24/7). Mereka kembali menjalani kegiatan belajar mengajar (KBM) di dalam kelas seperti biasanya. Setelah lima hari pada pekan lalu mengungsi di Ndalem Notoprajan.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi, Kepala Ombudsman Republik Indionesia (ORI) Perwakilan DIJ Budhi Masthuri, Kepala Dinas Pendidikan Kota Jogja Edi Heri Suasana, hingga para pengurus dan mantan pengurus Yayasan BTI, serta guru menyambut kembalinya 42 siswa tersebut sekitar pukul 09.30. Para siswa dan orang tua/wali murid konvoi dari Ndalem Notoprajan ke kampus sekolah BTI dengan dikawal aparat kepolisian.

Siswi kelas 9 Kanya Launnadhira mengaku senang bisa kembali belajar di kelas. Dibanding di Ndalem Notoprajan dia merasa lebih nyaman sekarang. “Enak belajar di sekolah,” ujarnya.

Hal yang sama dirasakan Komang Pebie Ayu Dewantara. “Di sini (sekolah) bersih, bisa main lompat-lompatan,” tutur siswi kelas 6 itu.

HP, sapaan akrab Heroe Poerwadi, mengatakan, kehadirannya di kampus BTI sebagai jaminan terselenggaranya KBM siswa secara normal di gedung sekolah.

Dikatakan, kembalinya para siswa dan guru merupakan komitmen bersama. Antara siswa, orang tua/wali murid, guru, serta pengurus Yayasan BTI. “Tentu semua berharap ini merupakan awal sekolah BTI kembali Berjaya. Seperti dulu dengan basketnya,” ujarnya.

Mantan pengurus Yayasan BTI Herianto Kurniawan berharap, para siswa tidak lagi mengungsi ke tempat lain untuk belajar. “Belajar di sini saja. Ada kampus, bukan cuma pendapa,” ucap pria yang akrab disapa Koh Bing.

Dalam kesempatan itu Koh Bing sempat nodong ke HP untuk memberikan beasiswa bagi siswa BTI yang berprestasi. “Syaratnya nilai harus Sembilan, nanti dapat beasiswa dari pak wakil wali kota,”sambungnya.

Permintaan Koh Bing disambut positif Edi Heri Suasana. Menurut dia selama ini pemkot selalu memberikan beasiswa prestasi bagi para siswa dengan nilai ujian nasional tertinggi di tiap kelurahan. “Bagi siswa kelas 6 dan 9 diusahakan dapat nilai baik supaya dapat beasiswa prestasi,” imbaunya.

Sementara mengenai konflik internal antara guru dan pengurus Yayasan BTI, Edi menegaskan tetap mengawal persoalan tersebut melalui mediasi. “Yang penting KBM berlangsung dengan baik dulu,” tegasnya.

Kepala SD BTI Retyas Budi Indrawanto mengaku lega kembali mengajar di sekolah. Kendati dirinya belum tahu pasti ikhwal masa depannya di yayasan tersebut. Toh kesediaannya mengajar siswa saat di Ndalem Notoprajan juga atas kehendak para orang tua/wali murid. Karena itu dia menyerahkan nasibnya kepada mereka. “Belum tahu masih dipakai atau tidak. Sempat mau wiraswasta, tapi orang tua siswa minta saya bertahan,” ungkapnya. (pra/yog/ong)