SLEMAN – Ribuan calon jamaah haji (calhaj) asal DIJ diberangkatkan ke embarkasi di Donohudan, Boyolali mulai kemarin (3/8). Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Sleman memberangkatkan 354 calhaj yang tergabung dalam kloter 25 SOC. Pagi ini (4/8) giliran 353 calhaj kloter 27 SOC menyusul. Sementara 302 calhaj yang tergabung dalam kloter 30 SOC diberangkatkan besok (5/8). Total ada 1.009 orang asal Sleman yang diberangkatkan ke Tanah Suci tahun ini. Tujuh di antaranya adalah petugas pendamping haji daerah (PPHD).

Kasi Haji dan Umrah Kemenag Sleman Silvia Rosetti mengatakan, jumlah calhaj yang seharusnya diberangkatkan sebanyak 1.005 orang (tidak termasuk PPHD, Red). Namun, tiga di antaranya gagal berangkat sesuai jadwal. Dua calhaj karena menderita stroke stadium 4. Mereka adalah Dasingah (kloter 25) dan Sri Parjinah (kloter 27). Seorang lagi mengalami patah tulang akibat kecelakaan lalu lintas bernama Edison (kloter 27). “Baru saja saya dapat kabar, Bu Dasingah akhirnya meninggal dunia,” ungkap Silvia tadi malam.

Silvi, sapaan akrabnya, memastikan, Sri Parjinah ditunda keberangkatannya tahun depan. Sebab, kondisi kesehatannya tidak memungkinkan untuk diberangkatkan tahun ini. Sedangkan Edison masih punya peluang diberangkatkan bersama kloter terakhir. Dengan catatan kondisi kesehatannya memenuhi syarat. “Khusus yang satu ini kami menunggu hasil observasi dari rumah sakit,” ucapnya.

Kemenag Sleman mencatat ada 302 calhaj usia lanjut. Adapun calhaj pria tertua adalah Dwi Harjono alias Dirin bin Pawiro yang berusia 82 tahun. Sedangkan calhaj tertua perempuan berusia 88 tahun, yakni Djariyah Wongso Rejo bin Wongso Rejo.
Sebelum bertolak ke Donohudan, para calhaj berkumpul di Masjid Agung Dr Wahidin Sudirohusodo untuk diberikan pengarahan akhir.

Di Gunungkidul dua dari 365 calhaj yang seharusnya diberangkatkan tahun ini juga gagal berangkat. Salah satunya karena meninggal dunia dan seorang lainnya berhalangan. “Enam calhaj lainnya berkebutuhan khusus, sehingga harus memakai kursi roda,” jelas Kepala Pelaksana Kemenag Gunungkidul Mukotib.

Sebanyak 363 calhaj dilepas Bupati Badingah di Masjid Al Ikhlas Wonosari kemarin. Mereka tergabung dalam kloter 23 SOC. Sementara 18 calhaj lain yang tergabung dalam kloter 31 SOC diberangkatkan bersama calhaj asal Kulonprogo pada Sabtu (5/8). “Semoga semua lancar, bisa kembali utuh. Semoga menjadi haji mabrur,” harapnya.

Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi mewanti-wanti pentingnya kesadaran calhaj untuk menaati semua peraturan, baik selama keberangkatan, saat di Tanah Suci, hingga kepulangan ke Indonesia. Satu hal yang paling penting, kata Immawan, setiap calhaj harus menjalani semua tahapan ibadah dengan ikhlas supaya mabrur.

Demikian pula yang terjadi di Kota Jogja. Seorang dari total 456 calhaj yang akan diberangkatkan ke Arab Saudi tahun ini belum mendapat kepastian. Karena dia harus menjalani cuci darah rutin. “Kami masih menunggu rekomendasi panitia penyelenggara ibadah haji (PPIH),” kata Kepala Kantor Kemenag Kota Jogja Sigit Warsito.

Dikatakan, merujuk Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2016 tentang Istithaah Kesehatan Jemaah Haji, pasien gagal ginjal hingga cuci darah dinilai tidak mampu. Kendati demikian, Sigit berharap calhaj berusia 50 tahun tersebut mendapatkan dispensasi. Sehingga bisa berangkat haji tahun ini. Pertimbangannya, calhaj tersebut masuk kelompok mandiri dan bisa melakukan cuci darah sendiri.

Di sisi lain, Sigit mengungkapkan, separo lebih dari seluruh calhaj yang diberangkatkan tahun ini berusia 60 tahun ke atas.
Mengenai barang bawaan calhaj, Sigit memastikan tidak ada yang termasuk larangan.

Guna menjaga kesehatan selama berada di Tanah Suci, seluruh calhaj diimbau sering minum. Minimal segelas setiap satu jam.
Terlebih adanya laporan tim Kemenag bahwa suhu cuaca di Arab Saudi berkisar 40 derajat Celcius. Kondisi cuaca tersebut bakal berpengaruh terhadap tubuh calhaj yang biasa hidup di daerah tropis.

Mawardi, calhaj asal Gunungkidul yang berkebutuhan khusus, mengaku siap menunaikan ibadah haji berkat berbagai latihan yang dijalaninya selama manasik dengan bantuan kursi roda. Demikian pula Dwi Harjono yang manula asal Sleman. “Insyaallah siap. Semoga mabrur,” ungkapnya.(dwi/pra/gun/yog/ong)