Ubah Saklar Menjadi Benda Bernilai Seni Tinggi

MELUKIS di atas media kanvas sudah biasa. Menjadi luar biasa ketika media lukis yang digunakan adalah saklar. Ya, saklar yang biasanya terpasang di dinding rumah untuk menghidup-matikan lampu.
IWA IKHWANUDIN, Jogjakarta
SAKLAR-SAKLAR bernilai seni tersebut bakal dipamerkan di Jogja Gallery, Jumat-Minggu (18-27/8). Gedung bekas Bioskop Soboharsono tersebut dindingnya akan dipenuhi 208 karya seni yang sangat elok untuk dinikmati.
Seniman yang terlibat dalam gelaran International Artswitch Exhibition tersebut sebanyak 208 orang. Terdiri dari 105 seniman Indonesia dan 103 perupa dari luar negeri.

Tercatat perupa dari Australia, Bangladesh, Kanada, Tiongkok, Mesir, Finlandia, Perancis, Jerman, dan India ikut memamerkan karya. Tak ketinggalan seniman dari Jepang, Korea, Laos, Malaysia, Moldova, Myanmar, Nepal, dan Belanda juga unjuk gigi.

Perupa dari Irlandia Utara, Filipina, Polandia, Rusia, Serbia, Singapura, Slovakia, Swedia, Taiwan, Thailand, Turki, Amerika, dan Vietnam juga mengirimkan karyanya. “Mereka antusias mengikuti gelaran ini,” ujar penggagas dan koordinator seniman acara tersebut Hadi Soesanto kemarin.

Dikatakan, pada awalnya pameran tercetus dari sebuah pameran saklar di Jogja beberapa waktu lalu. Imajinasi Hadi sebagai perupa melompat untuk mengubah saklar menjadi benda bernilai seni. “Saklar bisa menjadi media seni rupa. Bisa menjadi kanvas untuk melukis,” kata pelukis yang jago bermusik organ tersebut.

Dia mengakui, tidak mudah menyapukan kuas berlumur akrilik ke saklar seukuran 5×5 sentimeter. “Ukuran yang super kecil menjadi tantangan tersendiri agar lukisan tetap menunjukkan detail yang menjadi kekuatan karya,” kata Hadi.

Dia pun akhirnya berani mengajak teman perupanya ikut pameran tersebut. Meskipun pada awalnya dia sulit meyakinkan agar mereka mau ikut, akhirnya pelan tapi pasti perupa dari berbagai negara tadi mau terlibat mengirimkan karyanya.

Tantangan peserta ekshibisi sama, berekspresi dalam bidang berukuran 5×7 sentimeter saja. Beberapa mengubah bentuk saklar menjadi dua dimensi.

“Mereka menambahkan beberapa elemen, seperti benang, kain, kayu, bulu, serta polyester resin. Setiap perupa berupaya menunjukkan gaya serta jati dirinya dalam berkarya,” ujar Hadi.

Ide unik Hadi tersebut akhirnya disambut positif Marketing Manager Australindo Graha Nusa Christiant. “Kami melihat ada keunikan yang tergambar dari saklar yang dijadikan media lukis,” ujar Christiant.

Rencanya, kata dia, hasil karya lukis di atas saklar tersebut akan diabadikan di perusahaan. “Semacam dokumentasi perjalanan teknologi saklar dari masa ke masa. Termasuk bagaimana seorang seniman memanfaatkannya sebagai media berekspresi,” kata Christiant.

Tak hanya sampai di situ. Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) pun tertarik. MURI bakal menganugerahi International ArtSwitch Exhibition tersebut sebagai pameran lukisan pertama dengan media saklar. (din/ong)