Labuhan di Pantai Glagah Berlangsung Meriah

KULONPROGO – Labuhan Puro Pakualaman di Pantai Glagah, Kecamatan Temon, Kulonprogo berlangsung khidmat dan meriah kemarin (1/10). Ribuan pengunjung antusias dan rela berdesak-desakan dan basah terkena ombak untuk berebut gunungan.

Tradisi setiap tahun pada tanggal 10 bulan Suro (Penanggalan Jawa) ini selalu dinanti pengunjung. Acara dihadiri keluarga dan kerabat Puro Pakualaman, di antaranya KPH Indrokusumo, KPH Kusumoparasto, KRT Projoanggono, dan kerabat lain.
Prosesi diawali persiapan di Pesanggrahan Pakualaman di Desa Glagah. Gunungan kemudian dikirab sejauh 2,5 kilometer menuju Joglo Labuhan di tepi pantai oleh bregodo dan pengiring. Gunungan berupa gunungan padi dan gunungan hasil bumi.

Uborampe yang akan dilarung (dihanyutkan ke laut) dipersiapkan. Setelah semua siap, diboyong ke tepi pantai untuk dilarung, proses ini melibatkan personel SAR Korwil V Pantai Glagah. Termasuk dua gunungan dan uborampe juga dibawa ke tepi pantai untuk diperebutkan warga masyarakat dan pengujung yang hadir.

Staf Panitropuro Puro Pakualaman Mas Riyo Sestrodirjo mengatakan labuhan 10 Suro ini sudah berlangsung selama sepuluh tahun terakhir. Termasuk dalam rangkaian kegiatan Kadipaten Puro Pakualaman di bulan Suro. Pada malam 1 Suro digelar pagelaran wayang kulit dan ritual mubeng wilayah Pakualaman.

“Yang dilabuh pakaian yang sudah pernah dipakai Adipati dan putra Adipati (Paku Alam), serta potongan kuku dan rambut. Istilahnya dari alam kembali ke alam, dilarung,” jelasnya.

Salah seorang pengunjung, Wahyu Novita Furi, 26, warga Toyan, senang bisa ikut memerebutkan gunungan. Dia berharap, tradisi ini jangan sampai hilang karena menjadi identitas Jogjakarta.

“Basah semua. Kata orang dulu, berkah kalau basah begini. Sudah tradisi, biar dapat rezeki banyak, berkah, semua sehat. Saya dapat kacang panjang, kedelai, cabai, sampai rumah disayur sebagian disimpan,” kata Novita. (tom/iwa/rg/ong)