PURWOREJO – Pinggiran Sungai Bogowonto yang menjadi batas Purworejo-Kulonprogo di Desa Jogoboyo, Kecamatan Purwodadi, dipenuhi orang untuk menyaksikan puncak Festival Bogowonto 2017, kemarin (1/10). Menyajikan Gethek Emas Bogowonto, kegiatan ini menjadi penutup dari lima kegiatan besar yang telah dilaksanakan sebelumnya.

Kehadiran Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan perwakilan dari Kementrian Pariwisata, menjadi spririt pengembangan pariwisata di Purworejo. Selain itu, hadir Bupati Agus Bastian, Wabup Yuli Hastuti, Ketua DPRD Luhur Pambudi serta kepala OPD di Kabupaten Purworejo dan tamu kehormatan Bupati Serdang Bedagai (Sumatera Utara) Soekirman yang masih keturunan Purworejo.

“Dua minggu ini saya bicara wisata terus. BUMDes harus menjadikan wisata sebagai andalan,” kata Ganjar Pranowo saat memberikan sambutan.

Sektor pariwisata benar-benar menjadi hal yang harus dikembangkan, mengingat berbagai sektor lain memiliki keterbatasan. Sedangkan pariwisata adalah sesuatu yang tidak akan pernah habis, bahkan akan terus berkembang.
“Persediaan gas semakin lama semakin habis. Hutan juga semakin gundul, sekarang wisata harus menjadi andalan,” tambahnya.

Pariwisata yang memiliki anak asuh yakni ekonomi kreatif, harus terus dikembangkan. Wilayah yang secara potensi alam tidak memiliki, bisa melakukan pengembangan ekonomi kreatif untuk mendukung wilayah lain. “Dimulai dulu, jangan takut salah. Setelah jalan, baru ditata manajerialnya,” tandas Ganjar.

Memiliki desa relatif banyak yakni 469 desa, Purworejo bisa menyelenggarakan even budaya yang tidak terputus sepanjang tahun. Dari even itulah bisa menarik atau mengajak orang berduyun-duyun mendatangi Purworejo.

“Manfaatkan media agar publik itu paham bagaimana. Kembangkan pula medsos dan dikomentari. Berlomba jangan takut dikritik. Jika hal ini berjalan, saya yakin Purworejo dung (meledak, Red),” ujar Ganjar seraya mengepalkan tangannya.

Tak kalah penting ungkapan Bupati Agus Bastian yang masih melihat perilaku salah masyarakat akan keberadaan sungai. Dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan sampah, menjadikan kawasan sungai sebagai tempat sampah terpanjang. “Sungai dan sampah itu hal yang masih sangat melekat. Ini harus kita hindarkan,” kata Bupati.

Agus Bastian berharap Festival bogowonto akan bisa menjadi festival budaya utama yang dikenal luas. Suguhan menarik yang ditampilkan dari setiap kegiatan, diharapkan akan terus berkembang di seluruh Purworejo.

“Pesan dan promosi harus selalu berjalan karena ini penting. Dengan promosi yang baik, Festvital Bogowonto seperti ini akan dihadiri banyak masyarakat,” tambahnya.

Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Gandi Budi Supriyanto mengatakan, pelaksanaan Festival Bogowonto 2017 diprakarsai Asosasi Komunitas Penjaga Bogowonto (Atas Jago) yang menjadi asosiasi atas 24 komunitas yang konsen terhadap pelestarian sungai.

Adapun rangkaian yang ada meliputi lima kegiatan, antara lain, Tandya Hangreksa Bhumi Bogowonto, Sarasehan Bogowonto, Sendratari Bogowonto, Senjanada Bogowonto dan puncak acara Gethek Emas Bogowonto.

“Ke depan tidak hanya rangkaian kegiatan fetival saja yang ada, tapi akan kami dorong dapat terus bersinergi dengan dinas dan mengangkat kekuatan lokal potensi pariwisata di Purworejo,” kata Gandi. (udi/laz/ong)