JOGJA – Tepat hari ini (2/10) merupakan Peringatan Hari Batik Nasional ke-8. Melihat perkembangan batik di era milenial ini, pakar batik KRAy SM Anglingkusumo mengatakan, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui informasi soal batik.

Sebab, informasi terkait yang dapat ditemukan lewat pencarian di internet bukanlah situs resmi yang lengkap pembahasannya.
“Produsen dan pemerintah sebaiknya membuat sebuah website khusus tentang batik dengan motif yang lengkap, baik motif klasik maupun modern atau kontemporer berserta informasi selengkapnya termasuk daerah-daerah berkembangnya kerajinan batik tersebut,” ujar Bu Angling, panggilan akrabnya, sore kemarin (1/10).

Seperti yang diketahui motif batik sendiri mempunyai banyak ragam, tetapi ada motif-motif klasik dinilainya abadi dan punya filosofi. Semakin modern, motif batik dikembangkan dan dimodifikasi, sehingga muncul motif-motif baru ciptaan seniman batik seperti almarhum Iwan Tirta misalnya. Motif batik kontemporer seperti yang dibuat almarhum Amri Yahya juga menjadi bukti perkembangan batik saat ini.

“Ada juga motif batik baru yang sengaja diciptakan sebagai ikon daerah. Kekayaan motif yang luar biasa ini harus dirawat, diinventarisasi, dan diinformasikan ke laman khusus supaya banyak yang mengetahui soal batik tersebut,” imbuhnya.
Mengenai perkembangan pasarnya, menurutnya, banyak desainer dan produsen busana mengangkat batik sebagai bahan dasar busananya. Hal ini kemudian yang membuat pasar batik meluas hingga mancanegara.

“Pemerintah juga perlu memberikan apresiasi dan penghargaan untuk perajin, desainer, produsen, pasar tradisional maupun gerai yang telah berkontribusi dalam promosi batik di Indonesia,” paparnya.
Sementara itu, menyambut Hari Batik Nasional yang jatuh hari ini, MLK Batik menyelenggarakan kelas batik dengan tema

Saya Indonesia, Saya Cinta Batik Nusantara. Kelas batik ini bertempat di gerainya di Jalan Diponegoro No. 31 Gowongan, Jetis, Jogja, Minggu (1/10).

Acara ini sebagai bentuk partisipasi MLK Batik dalam menanamkan rasa cinta batik sekaligus mengenalkan proses pembuatannya.

“Kelas batik ini baru pertama kali dilakukan, kami mengenalkan batik Nusantara ada Sasirangan, Mega Mendung, batik Kalimantan, batik Jogja juga,” ungkap Manajer Operasional MLK Batik Utami.

Kelas Batik ini diikuti oleh 14 orang kolaborasi anak-anak dengan orang tuanya. “Kolaborasi karena memang pasar anak-anak banyak diminati, orang tua di sini bisa ikut membimbing,” tambahnya.

Dalam kegiatan ini, peserta diajarkan mulai dari cara penggoresan malam, pemberian warna, penjemuran, fiksasi, hingga peluruhan malam. “Anak-anak masih takut panas jadi batiknya sederhana, warna sederhana dilukis saja, ukuran kain juga kecil seukuran sapu tangan, dibuat fun,” ungkap Emirita Pratiwi selaku Mentor dari MLK Batik. (ita/mg3/ila/ong)