Kagumi Varietas Arabika di Ketinggian 1.200 Mdpl

KULONPROGO- Merayakan International Coffee Day (ICD), Minggu (1/10), ratusan pecinta kopi di Jogjakarta memutuskan untuk merasakan dinginnya Puncak Suroloyo, Samigaluh, Kulonprogo. Tentu saja bukan tanpa alasan bagi mereka yang tergabung dalam Barista and Koffie Lovers (BKVR) Jogjakarta mengemas kegiatan bertajuk “Dari Jogja untuk Kopi” yang dipusatkan di kawasan dengan ketinggian 1.200 mdpl.

“Sengaja kali ini kami rayakan Hari Kopi Internasional untuk mencari sesuatu yang lebih barokah. Kami ingin berterima kasih kepada alam, kepada petani,” ungkap Ketua Panitia Nurwidi Rukmana Jati di sela penyerahan bantuan pupuk dan alat pertanian bagi petani kopi Suroloyo.

Titut, sapaan akrabnya, menambahkan, pecinta kopi di Jogjakarta sangat banyak. Buktinya, tak kurang 1.050 kedai kopi tersebar di seluruh wilayah DIJ. Sejauh ini kawasan lereng Merapi dan Suroloyo menjadi kebun kopi lokal andalan pemilik kedai kopi.

“Dulu pernah sambangi petani kopi Merapi. Sekarang giliran Suroloyo. Kami ajak teman-teman ke sini untuk memotivasi petani kopi setempat,” ucapnya.

Menurut Titut, kopi Suroloyo memiliki keunikan tersendiri. Khususnya jenis arabika yang mampu tumbuh dan berbuah di ketinggian 1.020 mdpl (meter di atas permukaan laut). Padahal varietas kopi arabika lazimnya tumbuh di ketinggian 1.300 mdpl.

“Inilah keunikannya. Kopi lokal ini bisa diandalkan. Kualitasnya bisa disejajarkan dengan kopi-kopi yang sudah memiliki nama seperti Gayo, Aceh,” kata dia.

Dalam peringatan Hari Kopi Internasional 2017 BKVR membuka donasi selama kurang dari seminggu. Tak kurang 350 orang berpartisipasi untuk ajang sosial kali ini. Mereka tak hanya datang dari Jogjakarta. Sebagian barista dan pecinta kopi asal Jakarta, Surabaya, Bandung, Bali, Purwokerto, dan Temanggung turut ambil bagian. Donasi terkumpul Rp 26 juta disumbangkan bagi petani Suroloyo. “Hal ini menjadi bukti bahwa masyarakat Jogja benar-benar care (peduli) dengan kopi,” ujarnya. (tom/yog/ong)