SLEMAN – Polemik pembangunan perumahan masyarakat berpenghasikan rendah (MBR) di Sleman mendapatkan sorotan dari berbagai pihak. Hingga saat ini pembangunan perumahan Godean Hills di Dusun Jering, Sidorejo, Kecamatan Godean terhenti karena izin dari Pemkab Sleman belum turun.

Menurut Pakar Geologi asal UGM Wahyu Wilopo, tanah kawasan perumahan subsidi Godean Hills cukup rawan. Ancaman terbesar di kawasan itu adalah longsor. Terlebih kontur tanah wilayah tersebut didominasi oleh tanah lempung.

Meski belum ada sejarah bencana, Wahyu meminta pengembang dan calon pembeli waspada. Adanya perubahan besar-besaran turut berdampak pada kekuatan tanah. Apalagi sebelumnya kawasan tersebut bukit dengan tumbuhan yang lebat.

“Mungkin dulu, waktu belum dibuka kondisi relatif stabil dan tidak begitu curam serta tumbuhan yang cukup lebat. Pembukaan lahan membuat tanah dan batuan terekspose langsung dengan air dan timbul lereng yang cukup terjal, bisa memicu longsor,” jelasnya kemarin (2/10).

Wahyu pernah melakukan kajian terhadap pembangunan di kawasan tersebut. Pengembang, menurutnya, belum bertindak profesional. Terbukti hasil material pemotongan lereng hanya ditimbun. Tanpa ada pemadatan, material mudah longsor jika terkena hujan.

Kondisi diperparah dengan kontur tanah lempung. Jika pengembang tidak cermat dalam mengolah bisa menjadi bidang gelincir. Bencana bisa terjadi apabila lempung berada di bagian bawah yang di atasnya adalah material yang lolos air

“Maka lempung bisa menjadi bidang gelincir. Tapi kalau dari permukaan sampai ke dalam hanya terdiri lempung saja maka tidak terlalu berbahaya, kecuali di bagian atas bukit ada air yang bisa meresap mengalir di bawah lapisan lempung,” ujarnya.

Dia menegaskan kajian ini bukan berarti pihaknya antipembangunan. Justru dia mendukung agar pengembang lebih peduli. Terlebih, kawasan tersebut ditujukan sebagai perumahan dan permukiman.

“Jangan hanya ingin mendapatkan lahan yang luas tetapi kurang memperhatikan aspek keamanan bagi konsumennya,” pesannya.

Direktur Walhi DIJ Halik Sandera mendukung langkah Pemkab Sleman menghentikan pembangunan Godean Hills. Berdasarkan rencana tata ruang wilayah (RTRW), kawasan tersebut menurutnya bukan peruntukan perumahan.

Berdasarkan RTRW justru kawasan Sidorejo ada kawasan hortikultura yang wajib dijaga. Fungsinya sudah jelas bagi ekosistem alami di kawasan Kabupaten Sleman. Pihaknya juga telah mendapat laporan warga, di mana material lumpur mulai menggenangi kawasan sawah di sisi baratnya.

Kalau hujan, endapan lumpur itu sampai masuk ke sawah di sisi baratnya. Alhasil kontur tanah sawah jadi keras. “Kalau tetap berlanjut, ditakutkan menjadi kuburan masal bagi penghuninya karena rawan longsor,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sleman Kunto Riyadi mengungkapkan, pihak pengembang PT Dewi Sri Sejati belum mengantongi izin. Bahkan Pemkab Sleman melalui Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Sleman telah menerbitkan surat peringatan sebanyak dua kali.

Meski begitu, Pemkab Sleman tidak ingin berlarut menghadapi permasalahan ini. Kunto menyebutkan beberapa dinas terkait telah melakukan kajian. Bahkan tengah menyusun Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) untuk kawasan Kecamatan Godean.
“RDTR berfungsi sebagai patokan pembangunan. Apakah kawasan tersebut masuk dalam alokasi perumahan MBR. Proyek MBR akan tetap berlanjut, hanya untuk lokasi masih terus dikaji,” ujarnya. (dwi/ila/ong)