SLEMAN – Langkah berat harus dijalani PSS Sleman di dua pertandingan sisa, yakni melawan Cilegon United dan Persis Solo. Itu menyusul kekalahan dramatis di kandang sendiri 2-3 dari PSPS Riau di Maguwoharjo Internasional Stadium Sleman, kemarin(2/10).

Sindrom kebobolan di menit akhir juga masih menjangkiti Busari dkk.”Harus jalan terus jangan pikirkan tim lain. Memang kami kecewa karena banyak kebobolan, harusnya semua tanggap dan bisa antisipasi. Lha kami sudah unggul 2-0,” kata Pelatih PSS Sleman Freddy Muli dalam sesi jumpa pers usai laga.

Disinggung terkait pergantian Arie Sandy sebagai gelandang bertahan dengan memasukkan Dave Mustaine, menurutnya hal itu sesuai dengan strateginya. Sebab PSS main di kandang dan perlu kemenangan. “Kami membutuhkan pemain karakter menyerang. Ketika itu sistem permainan sudah berjalan. Hanya pergantian kedua Nono Mardiono yang tidak berjalan,” imbuhnya.

Mardiono menurutnya pasif ketika transisi bertahan dan kurang berani masuk melakukan tusukan-tusukan ke kotak penalti dari sisi kiri. Padahal, sebagai pengganti tenaganya masih 100 persen. “Secara umum bukan karakter kami. Kami sudah unggul 2-0 tapi kurang konsentrasi serangan balik. Tiga poin tercuri di kandang. Kami akan berusaha bangkit di pertandingan berikutnya di Cilegon dan kandang melawan Persis,” terangnya.

Sadar berada di posisi buncit, PSPS lebih dulu mengambil inisiatif serangan. Di awal laga, Fiwi Dwipan bahkan sudah membuat kipper PSS Sleman Syahrul Trisna Fadilah berjibaku menyelamatkan gawangnya. Beruntung tembakan keras jarak dekat pemain bernomor 15 itu masih mampu ditepis.

Itu belum termasuk pergerakan Herman Dzumafo dan Ichsan Pratama di depan. Sementara Fiktor Pae di barisan belakang menyulitkan Rossi Noprihanis dan Riski Novriansyah melakukan tusukan ke kotak penalty PSPS Riau.

Setengah jam berjalan, Dzumafo mempunyai peluang emas setelah lolos dari jebakan offside dan melewati beberapa pemain. Beruntung tembakan pemain naturalisasi itu masih tipis menyamping dari gawang PSS. Tuan rumah membalas melalui Dirga Lasut. Namun tembakanya mampu dibendung kiper Gianluca Pandeynuwu.

Menit 36, Imam Bagus mencetak gol setelah mendapatkan umpan Tedi Berlian. Sekali gocek melewati bek lawan lalu tendangan kerasnya di dalam kotak penalti tak mampu dibendung kiper lawan. Skor 1-0 bertahan sampai pemain kedua tim masuk ruang ganti.

PSS menambah keunggulan di menit 54 melalui sepakan 12 pas Dirga Lasut. Hukuman penalti diberikan wasit karena Fiktor Pae menjegal Riski Novriansyah di kotak penalti. Tanpa ampun wasit menunjuk titik putih meskipun diprotes pemain PSPS.

Menit 60, Firman Septian yang masuk dari bangku cadangan memperkecil margin skor menjadi 2-1. Memanfaatkan kemelut di depan gawang PSS, tendanganya tak mampu dihalau barisan pemain PSS. Mencari gol penyama, Askar Bertuah, julukan PSPS bermain full offensif.

Petaka bagi tuan rumah terjadi di menit 72, akselerasi Firman Septian di sisi kanan permainan PSS mampu mengirim umpan ke kotak penalti. Bola yang datang tak mampu dijinakkan dengan sempurna hingga mampu dimanfaatkan Riki Dwi Saputro. Pemain yang belum genap lima menit masuk itu mencetak gol penyama 2-2.

Terlihat keluarnya Arie Sandy karena cedera membuat tidak adanya filter serangan lawan. Busari kerap terlambat turun. Sedangkan Dave Mustaine yang menggantikan Sandy tidak memiliki naluri bertahan.

Tim tamu berbalik unggul jelang waktu normal berakhir. Adalah Riki Dwi yang kembali mencatatkan namanya di papan skor. Sepakan melengkung dari kotak penalti tak mampu dijangkau kiper Syahrul Trisna Fadilah.

Pelatih PSPS Philep Hansen Maramispuas dengan hasil yang diraih timnya. Anak asuhnya bermain habis-habisan 90 menit untuk meraih kemenangan. “Fase penyisihan lalu termasuk liga terkejam di dunia dan kami sudah melewati. Kami lihat sejauh mungkin langkah kami di pertandingan berikutnya,” ungkapnya. (riz/din/ong)