JOGJA- Kehadiran ratusan pecinta kopi menjadi dorongan semangat bagi para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Kopi Sedyo Rukun. Kelompok ini terdiri atas 70 petani. Sebagian besar anggota kelompok memiliki lahan kopi pribadi. “Total luas lahan kopi Suroloyo sekitar 20 hektare,” ungkap Ngatiman, warga Keceme, Gerbosari, Samigaluh, yang juga ketua Kelompok Tani Sedyo Rukun.

Selain arabika, Suroloyo juga menghasilkan robusta. Budidaya kopi robusta telah menjadi warisan nenek moyang yang tak diketahui awal mulanya. Sedangkan arabika mulai dibudidayakan pertengahan 1994.

“Kopi di Suroloyo menjadi hasil utama kami. Kendati panen setahun sekali, hasilnya lumayan menjanjikan. Dengan acara seperti ini kami sangat senang dan makin termotivasi untuk bertani kopi,” ungkapnya.

Berkat kemajuan teknologi, lanjut Ngatiman, kopi Suroloyo makin dikenal masyarakat. Bahkan menembus pasar ekspor ke Singapura dan Australia. Kopi arabika dijual Rp 90 ribu per kilogram. sedangkan jenis robusta dibanderol Rp 40 ribu.

Untuk menambah nilai ekonominya, petani setempat memproses biji mentah menjadi produk siap saji dalam bentuk kemasan seberat 85 gram dengan harga Rp 17 ribu per bungkus. Sedangkan kemasan robusta Rp 13 ribu dengan berat segaram.

Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo sangat apresiatif dengan aksi peduli BKVR. Dengan semangat Bela Beli Kulonprogo, Hasto berniat mengolah kopi lokal menjadi produk andalan. Sebagai sajian bagi pengunjung New Yogyakarta International Airport (NYIA). “Tidak kalah dengan Starbucks. Jika bandara beroperasi nanti, jika perlu tidak usah ada Starbucks. Gantinya Mira Kopi atau Kopi Milik Rakyat,” selorohnya.

Salah seorang peserta ICD, Rizki Ramadani, 21, mengaku sangat terkesan dengan sensasi kopi Suroloyo. “Saya penasaran dengan arabika Suroloyo ini,” ungkap pemilik kedai kopi di Jakarta Utara itu. (tom/yog/ong)