BANTUL – Ruang di depan IGD RS PKU Muhammadiyah Bantul kemarin (2/10) dipenuhi belasan warga RT 1 dan RT 2 Pedukuhan Glugo, Panggungharjo, Sewon. Belasan orang yang didominasi ibu rumah tangga ini berharap cemas menanti kabar anggota keluarga mereka yang sedang dirawat lantaran keracunan makanan.

Informasi yang diperoleh, Sabtu (30/9) lalu salah satu musala di Pedukuhan Glugo menggelar agenda buka bersama puasa sunah 10 Muharam. Menu utamanya adalah nasi bungkus berisi orak-arik plus mi dengan lauk telur. Saat berbuka tak ada satu pun warga merasa janggal dengan hidangan yang tersaji. Semuanya lahap.

Beberapa jam kemudian, satu per satu warga mulai merasakan gejala yang sama. Mual-mual, pusing, lemas dan muntah. Bahkan, di antaranya ada yang mengalami diare.

“Ibu saya yang dirawat. Minggu dini hari mulai muntah-muntah,” jelas Apriyani, seorang warga Glugo saat ditemui RS PKU Muhammadiyah Bantul, kemarin.

Kendati belum ada bukti kuat, Apri, sapaannya menduga keracunan yang menimpa sebagian warga RT 01 dan RT 02 ini karena menu makanan buka bersama. Lantaran seluruh warga yang keracunan adalah mereka yang ikut buka puasa bersama. Walaupun makanan yang tersaji saat itu segar. Tidak terlihat tanda-tanda basi.

Menurutnya, makanan tersebut dimasak secara bersama-sama oleh warga. Sengaja dipersiapkan untuk menu berbuka.
Manajer Humas RS PKU Muhammadiyah Bantul Varida Ulfa Ma’rifah mencatat ada 60 pasien yang menderita keracunan makanan. Gejalanya sama. Mereka mulai masuk RS sejak Minggu (1/10) malam. “Yang rawat inap 14 orang. Lainnya rawat jalan,” ungkapnya.

Terpisah, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Bantul Pramudi Darmawan mengungkapkan, seluruh pasien keracunan makanan dilarikan di RS PKU Muhammadiyah Bantul.

Terkait penyebabnya, Pramudi tidak berani berandai-andai. Yang pasti, dinas telah mengambil sampel makanan untuk diuji di laboratorium. “Dua minggu lagi baru keluar hasilnya,” tambahnya. (zam/ila/ong)