JOGJA – Suasana Jalan Malioboro tampak berbeda, Senin (2/10) malam lalu. Beberapa meja panjang tertata di jalur pedestrian. Tepatnya di depan Malioboro Mall.

Di atas meja berjajar water jar dan piranti pengolah kopi lainnya. Belasan barista sibuk meracik dan menyeduh kopi gratis ratusan orang yang memadati ikon wisata Kota Jogja malam itu. Para penikmat kopi pun rela antre dan berdesak-desakan demi secangkir minuman berasa pahit itu. Itulah sekilas suasana Malioboro Coffee Night.

“Kami gandeng 40 tenant kopi untuk memeriahkan acara peringatan Hari Kopi Internasional yang jatuh pada 1 Oktober,” ungkap kreator acara, Anggi Dita. Acara tersebut juga sebagai wujud apresiasi bagi para petani, pengolah, penikmat, hingga pemilik kedai kopi.

Membeludaknya kunjungan pecinta kopi menjadi bukti tingginya minat masyarakat terhadap keberadaan coffee shop di Jogjakarta. “Meski tak banyak lahan, ada sekitar seribu kedai kopi tersebar di wilayah Jogjakarta,” ungkapnya.
Momentum itu sekaligus menjadi ajang untuk mengenalkan beragam olahan kopi lokal dari berbagai daerah.

Panitia menyediakan kopi Wonosobo, Jawa Tengah, hingga Perbukitan Bintang, Papua. Baik jenis robusta maupun arabika.
Pengunjung bisa memilih sesuai selera secara gratis. Ada kopi hitam murni serta campuran susu atau jahe.

Selain menyajikan kopi gratis, para tenant menjual aneka produk. Baik berbentuk greenbean atau bubuk.
Salah satu favorit pengunjung adalah kopi Madura yang disuguhkan tenant Sagera. Kopi Madura biasanya dipadu dengan jahe.

“Kami memang belum buka usaha di Jogja. Makanya lewat acara ini kami ingin promosikan kopi lokal Madura ke masyarakat,” ungkap koordinator tenant Sagera Agus Edi Fitrian. Rasa kopi Madura cenderung fruity (asam).

Lain lagi dengan Surami café, yang menjual Coldbrew Arabica. Produk kemasan botol 100 ml siap minum ini dibanderol seharga Rp 10 ribu. Produk ini berbahan kopi Pegunungan Bintang. Mirip Americano yang disajikan setelah disimpan di dalam kulkas selama 24 jam.

Sebagian penikmat kopi yang ditemui Radar Jogja rata-rata penasaran dengan ragam kopi lokal (single origin) Indonesia. Ewaldus Ambrosius Tukan, salah seorang di antaranya. Remaja asal Flores ini mengaku sering minum kopi Lampung dan Papua Wamena. “Baru tahu juga kalau dari Papua ada kopi dari Pegunungan Bintang,” tuturnya.

Kemeriahan peringatan Hari Kopi Internasional di Malioboro berlangsung hingga tengah malam. Kopi gratis sebanyak 10 ribu cup ludes. Pun demikian camilan seperti tempe mendoan, kacang rebus, ubi, dan penganan lokal lain.
Iringan live music dan pembagian doorprize oleh panitia makin menambah semarak acara.

Tak sampai di situ, acara dilanjutkan hingga kemarin pagi. Panitia membagikan seribu bungkus nasi gudeg untuk pengunjung. (mg4/yog/ong)