SLEMAN – Warga Karangwuni, Caturtunggal, Depok digemparkan dengan penemuan mayat dalam kondisi menggantung di sebuah kos di Gang Jeruk Nomor 1, kemarin (4/10). Hasil identifikasi kepolisian, mayat tersebut merupakan mahasiswa semester akhir perguruan tinggi swasta (PTS) di Jogjakarta, Birahmatika Tsalasa Allail, 21.

Dari informasi yang dikumpulkan, jasad Birahmatika ditemukan pertama kali oleh Gawong Satya Pambudi, 21, yang merupakan teman dari korban. Saat ditemukan, jasad pria yang akrab disapa Yusa tersebut menggantung di ventilasi kamar mandi.

Dari keterangan Gawong kepada aparat, dia terakhir bertemu Yusa di sebuah kedai kopi di kawasan Selokan Mataram, Senin (2/10) lalu. Saat itu, dia bersama seorang rekan lainnya tengah nongkrong bersama seperti biasanya. Bahkan mereka sempat bermain games hingga pukul 14.00.

“Tidak ada cerita penting dan mencurigakan saat itu,” jelas Gawong kemarin.

Sementara itu pemilik kos, Ridwan Syah, 71, membenarkan bahwa jasad Yusa ditemukan oleh temannya dan seorang pembantu, Meliana Putri, 16, warga Gunungkidul.

Ketika itu, teman korban bermaksud mengambil laptop di dalam kamar . Saat dipanggil melalui telepon, korban tidak menjawab. Selanjutnya, teman korban meminta izin untuk masuk ke dalam kamar dengan ditemani pembantu.

“Karena tidak ada jawaban dari dalam kamar, keduanya mencoba membuka pintu kamar. Ketika dibuka Yusa sudah menggantung dengan ikat pinggang. Saya juga kaget karena kejadian ini baru pertama kali,” jelasnya.
Dia menuturkan, Yusa baru seminggu tinggal di tempat kosnya. Bahkan beberapa kali dia kerap bertemu dengan Yusa.

“Anaknya sopan dan seperti anak pada umumnya. Tidak ada tanda-tenda tertekan atau seperti apa” jelasnya.

Panit Reskrim Polsek Bulaksumur Iptu Eko Udi Susanto menjelaskan,korban gantung diri merupakan warga Kumisik Lawanganagung RT/RW 03/04 Sugio, Lamongan, Jawa Timur. Dari hasil pemeriksaan awal oleh dokter RS Bhayangkara di tempat kejadian perkara (TKP) tidak ada tanda-tanda kekerasan. Untuk sementara, korban dipastikan meninggal akibat jeratan di bagian leher.

“Untuk penyebab pasti kematian korban masih kami lakukan penyelidikan,” tandas Eko.
Kasus bunuh diri ini sudah yang kesekian kali terjadi di DIJ. Sebelumnya, pada Juli lalu sepasang suami istri di Kaliabu, RT 1 RW 12, Bayuraden, Gamping, Sleman tewas. Sang suami, Daniel Priyana, meninggal gantung diri.

Sedangkan sang istri ditemukan tewas di dalam mobil. Sebelumnya lagi, seorang siswi SMP di Prambanan juga memutuskan mengakhiri hidupnya karena kecewa hasil nilai ujiannya jelek. Sedangkan pada awal Januari lalu, seorang pemuda 26 tahun bunuh diri di Banaran, Playen, Gunungkidul. Pelaku, Putut Wijanarko depresi akibat patah hati.

Menurut Psikolog Gita Nurani bunuh diri ditenggarai terkait kondisi mental seseorang. Faktor depresi menjadi salah satu pendorong seseorang melakukan tindakan bunuh diri. Gita menjelaskan, bunuh diri disebabkan banyak faktor. Hanya, bunuh diri kerap terjadi pada golongan orang yang mudah bingung dan tidak dapat memecahkan masalah yang dihadapi.

“Mereka kerap mencari pemecahan masalah sendiri, dan puncaknya dengan melakukan bunuh diri,” kata Gita kepada Radar Jogja kemarin (4/10).

Dari pengamatan, Gita menyebut pelaku bunuh diri merupakan orang yang memiliki tipe tertutup dan kurang dalam melakukan interaksi sosial.

Di kalangan remaja yang baru tumbuh menjadi dewasa, bunuh diri dikarenakan tekanan sosial dari luar. Disebutkan, di masa-masa memasuki usia dewasa, persoalan yang dihadapi akan semakin kompleks.

Tekanan sosial yang dihadapi biasanya berupa bully. Selain bully, faktor yang menyebabkan yakni tekanan keluaga, ekspektasi yang terlalu tinggi, beban kuliah yang cukup berat serta pergaulan.

“Terkadang mahasiswa yang tidak bisa beradaptasi dalam pergaulan juga menyebabkan depresi,” jelasnya.

Namun, sambungnya, tidak semua bunuh diri diawali oleh depresi. Terkadang, perubahan sikap tidak selalu muncul pada orang-orang yang akan bertindak gegabah melakukan bunuh diri. Bahkan, para pelaku bunuh diri tetap bisa bersikap seperti biasanya, tanpa diketahui orang-orang di sekitarnya.

“Secara tiba-tiba terkadang para pelaku bunuh diri mengambil tindakan yang tidak diketahui oleh orang-orang di sekelilingnya,” tandasnya.

Gina mengatakan, para pelaku bunuh diri, cenderung merasa sepi dalam hidupnya, meskipun banyak orang-orang di sekitarnya. Oleh karenanya, orang-orang semacam ini memerlukan lingkungan sosial dan orang-orang untuk berbagi.

“Melihat orang semacam ini keluarga harus tanggap. Hal tersebut untuk mengurangi tekanan sosial dalam hidupnya,” jelasnya. (bhn/ila/ong)