Buat Kajian, Banding ke Pemkab Malang

SLEMAN- Sampah masih menjadi persoalan pelik di wilayah Sleman. Melihat keterbatasan tempat pembuangan akhir sampah (TPA) komunal di Piyungan, Bantul, Pemkab Sleman mengkaji kemungkinan membangun TPA sendiri. TPA yang dimaksud adalah tempat pemrosesan akhir. “Jadi bukan sekadar pembuangan akhir.

Tapi diolah lagi agar sampah lebih memiliki manfaat dan nilai lebih. Misalnya dikonversi menjadi energi,” ungkap Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sleman Kunto Riyadi kemarin (5/10).

Merujuk tata ruang dan wilayah, sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah No 12 Tahun 2012 ada dua lokasi yang memungkinkan untuk dibangun TPA. Yakni Prambanan dan Gamping. Hal itu berdasarkan kajian kondisi geologi bebatuan di dua wilayah tersebut yang didominasi jenis gamping.

Menurut Kunto, formasi batuan di wilayah Prambanan dan Gamping termasuk kategori tidak porus. Atau lebih kedap air. Selain itu batu gamping punya ciri bisa menyamarkan bau tak sedap. Faktor sosial dan akses yang jauh dari perkotaan juga menjadi pertimbangan.

Rencana jangka pendek TPA akan dibangun di Prambanan. Saat ini pemkab sedang mencari lokasi yang paling pas. “Pengelolaan TPA oleh pihak ketiga akan lebih baik,” ujarnya.

Dalam rangka merealisasikan pembangunan TPA tersebut Pemkab Sleman melakukan studi banding di Kabupaten Malang. Bupati Sri Purnomo juga menyempatkan diri melihat konsep TPA Talang Agung. “Banyak yang bisa dipelajari. Sampah diolah menjadi gas metana, TPA menjadi area wisata edukasi,” ungkapnya.

Menurut SP, sapaannya, Pemkab Sleman menyiapkan lahan seluas empat hektare di Desa Madurejo, Prambanan untuk dibangun TPA. Konsep yang diusung juga tak jauh beda dengan Talang Agung.

“Lokasinya dekat dengan pembangunan instalasi pengolahan lumpur tinja (IPLT),” sambung SP.

Sebagaimana pengolahan sampah di Talang Agung, setiap jenisnya dipilah antara organik dan nonorganik. Kedua jenis sampah ini ditimbun dalam tanah sebelum diolah.

Gas metana yang dihasilkan dimanfaatkan untuk kepentingan rumah tangga. Gas disalurkan menggunakan pipa. Semuanya gratis. Hal itu guna mengurangi ketergantungan warga terhadap kebutuhan elpiji.

Sementar itu, Wakil Bupati Malang Muhammad Sanusi mengungkapkan, ada 261 warga pengguna gas metana yang dihasilkan TPA Talang Agung. “Pengembangan TPA tersebut dengan melibatkan bank sampah di setiap wilayah,” ungkapnya.(dwi/yog/ong)