JOGJA – HUT ke-261 Kota Jogja tahun ini menjadi momentum bagi Pemkot Jogja untuk mengajak masyarakat terus berperan serta dalam pembangunan. Semangat gotong royong agawe majuning Ngayogyakarta (Segoro Amarto) bukan lagi sekadar jargon. Tapi benar-benar diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal itulah yang mendasari tema “Bersama Membangun Jogja” sebagai latar belakang perayaan ulang tahun ke-261 yang tepat pada tanggal 7 Oktober 2017.

Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti mengatakan, pemilihan teman tersebut dilatarbelakangi pemikiran akan semangat kebersamaan sebagai ciri khas dan napas masyarakat. “Harapan kami masyarakat dapat melakukan berbagai kegiatan untuk mendukung program pembangunan dilandasi rasa kebersamaan,” ungkapnya.

Demikian pula makna gunungan wayang yang tergambar dalam logo HUT Kota Jogja tahun ini. Menurut HS, sapaannya, mengandung filosofi bahwa keindahan akan terjalin ketika seluruh elemen masyarakat bersatu dengan pemimpinnya dan pemimpin selalu mengayomi masyarakat dengan tetap berlandaskan norma agama. “Sehingga menuju Kota Jogja yang berkembang dan akan mewujudkan cita-cita bersama,” tutur HS.

Kebersamaan masyarakat dalam pembangunan sudah begitu tampak di mata Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi. Dari tingkat rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW). Kebersamaan itu cukup menjadi modal membangun Jogja jika terus dipupuk dengan semangat gotong royong, guyub,dan kerukunan.

“Selain lebih meriah, semangat gotong royong akan membiasakan mayarakat untuk melakukan apa pun bersama-sama,” ucapnya.

Reresik Malioboro menjadi salah satu bukti kebersamaan masyarakat Kota Jogja. Ajang bersih-bersih kawasan ikon wisata Jogja tiap selapanan (setiap 35 hari sekali) tersebut kali pertama digelar Selasa Wage (26/9) lalu. Kegiatan itu merupakan bentuk kebersamaan semua komunitas yang biasa beraktivitas di kawasan Malioboro. Mulai pedagang kaki lima, pengemudi andong, dan becak, hingga para pemilik toko. Semuanya bersama-sama menjaga Malioboro. “Reresik Malioboro itu menjadi kesempatan bagi para penghuni Malioboro untuk istirahat, merenungkan, dan merawat tempat mereka beraktivitas,” tutur HP, sapaan akrabnya.

Kegiatan lain yang juga membutuhkan kebersamaan adalah Reresik Sampah Visual. Program ini juga telah dilakukan dalam rangka menyambut HUT ke-261 Kota Jogja. Seluruh elemen masyarakat dilibatkan untuk membersihkan pamflet, rontek, dan aneka jenis media promosi yang ditempel atau dipasang bukan pada tempatnya. Tak cukup sampai di situ, usai perayaan HUT pemkot telah mengagendakan Reresik Kampung. Berupa kegiatan kerja bakti serentak tiap Minggu Legi di seluruh wilayah Kota Jogja. “Semua bentuk kebersamaan itu harus terus dipupuk di tahun-tahun berikutnya,” pintanya. (pra/yog/ong)