Kebohongan Alumnus IST Akprind yang Hebohkan Dunia

JOGJA- Nama Dwi Hartanto mendadak viral karena prestasi abal-abalnya terkuak di berbagai laman berita media online Indonesia. Dia pernah mengaku sebagai otak di balik teknologi pesawat tempur generasi keenam. Bahkan, dia mengklaim telah mengantongi lima hak paten atas teknologi satelit dan pengembangan roket. Karena bualannya itu, Dwi pun sempat diberitakan sebagai “The Next Habibie”.

Itu setelah dia mengaku terlibat dalam sejumlah proyek besar dunia terkait inovasi teknologi bidang dirgantara dan antariksa. Terlebih dengan latar belakang pendidikannya yang sangat memukau netizen. Belakangan sosok kelahiran Madiun, 13 Maret 1982 itu justru menjadi bahan cemoohan publik. Bahkan, Institut Sains dan Teknologi (IST) Akprind Jogjakarta sebagai almamaternya turut dibuat repot.

“Saya sudah membaca kisah suksesnya sejak 2016. Sempat kecewa karena almamater IST Akprind tidak pernah disebutkan Dwi dalam pemberitaan mana pun. Baru akhirnya kebohongan Dwi terungkap dan mengaku bahwa dia adalah lulusan Akprind 2005,” beber Rektor IST Akprind Amir Hamzah di kampus setempat kemarin (9/10).

Amir tercatat pernah menjadi dosen pengampu informatika selama Dwi mengenyam pendidikan di IST Akprind. Sejauh ini Amir mengaku tidak pernah melihat Dwi melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Diakui, Dwi merupakan lulusan terbaik Teknik Informatika saat itu dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,88.

“Dia juga pernah mendapat penghargaan dari Kopertis Wilayah V sebagai mahasiswa berprestasi. Sempat bergabung dengan tim robot kami dan mengikuti lomba di Universitas Indonesia dengan membangun robot cerdas pemadam api,” ungkap Amir.
Kompetisi robot itu juga dijadikan bahan skripsi Dwi dengan hasil yang cukup memuaskan. Pria yang memiliki nomor pokok mahasiswa 01052087 itu juga aktif dalam kegiatan mahasiswa selama kuliah.

Hanya, kiprah Dwi tak pernah terdengar lagi oleh pihak kampus setelah dia lulus kuliah.

Terkait kasus pembohongan publik yang diduga dilakukan Dwi, Amir mengaku tidak dapat berbuat banyak. Apalagi memberikan sanksi. Sebab, tindakan Dwi yang dicap tak terpuji tersebut tak dilakukannya saat masih berstatus mahasiswa.”Skripsi hasil pemikirannya pun tidak ada unsur plagiat,” ucap Amir.

Adapun KBRI Den Haag yang sempat memberikan penghargaan kepada Dwi pada HUT RI ke-72 melalui Surat Keputusan Nomor SK/023/KEPPRI/VIII/2017 pada September lalu akan di cabut. Itu hanya salah satu dampak kebohonan Dwi yang telah menyebar ke publik.
Amir menyayangkan sikap Dwi karena menganggapnya sebagai mahasiswa yang memang pintar dan tekun.

“Harusnya bisa benar-benar membanggakan almamaternya. Namun karena tidak dibarengi moral yang baik jadi berdampak seperti ini,” sesal Amir. (ita/yog/ong)