SLEMAN – Kasi Mitigasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Joko Lelono mengungkapkan, ada 200 titik rawan longsor di kawasan Perbukitan Prambanan. Hal ini sejatinya bisa menjadi acuan bagi para penambang tradisional di kawasan tersebut.

Itu penting dilakukan sebagai antisipasi jatuhnya korban.
Sejatinya BPBD Sleman bersama jajaran Muspika Prambanan telah melakukan sosialisasi. Hanya, belum semua warga khususnya penambang memahami titik rawan tersebut. Imbasnya masih terjadi kecelakaan kerja dengan korban Tugimin, 61, Minggu (8/10).

“Dari kasus kemarin, lereng yang menimpa seperti mangkok. Posisi lereng atas mencuat keluar, padahal ini rentan longsor jika ada getaran,” jelasnya ditemui di Kantor BPBD Sleman, kemarin (9/10).

Kelalaian penambang tidak terjadi kali ini saja. Berdasarkan pantauan BPBD Sleman, penambangan cenderung tidak tertata. Fokus pada material tambang tanpa memperhatikan faktor keamanan dan keselamatan kerja.

Kawasan Prambanan khususnya Sambirejo terdiri dari beragam lapisan tanah. Pada lapisan tengah terdapat lempung tufaan. Struktur inilah yang berbahaya jika terkena air. Terlebih jika pada lapisan atasnya terdapat beban berat.

“Dari bawah ada batu pasir tufaan, diatasnya breksi batu apung, lalu lempung tufaan, lalu seling tipis dan di atasnya sama lagi dengan beban berat. Lempung ini bisa jadi medan gelincir jika terkena air. Apalagi jika struktur tanah atau batu diatasnya pecah dan air rembes melalui celah,” ujarnya.

Kasus Tugimin mirip dengan medan gelincir. Korban menambang pada lapisan di bawah lempung tufaan. Sementara di atasnya terdapat tumpukan pasir dan batu dengan beban berat. Adanya getaran saat penambangan diduga memicu terjadinya longsoran.

Pakar Geologi UGM Wahyu Wilopo mengakui kawasan tersebut cukup rawan. Berdasarkan struktur, tanah, dan batuan banyak mengalami retakan. Kondisi diperparah dalam cuaca yang fluktuatif. Terutama peralihan dari panas ke hujan yang berimbas pada kesolidan tanah.

Salah satu penyebab tinggi risiko bencana adalah penambangan yang tidak terukur. Beberapa penambang, menurutnya, tidak mengikuti anjuran. Untuk memulai penambangan harus diawali dari sisi atas. Tujuannya mengurangi risiko terjadinya longsor.

“Rata-rata penambang tidak hanya di Prambanan memulai dari sisi bawah. Padahal dari atas baru turun ke kaki lereng. Pertimbangannya selain kontur tanah juga mengurangi beban sisi atas,” jelasnya.

Berdasarkan kajian saat terjadi Gempa 2006, terdapat 136 titik rawan di perbukitan Prambanan. Dari keseluruhan tersebut didominasi oleh risiko tanah longsor. Bahkan turut membentang hingga kawasan Parangtritis dan Bayat Klaten. (dwi/ila/ong)