KULONPROGO – New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Temon, Kulonprogo akan menjadi solusi atas kondisi Bandara Adisutjipto yang kini sudah terlalu padat. Namun dengan kapasitas yang lebih besar, infrastruktur pendukung juga harus disiapkan mulai sekarang.

Hal itu diungkapkan oleh Wakil Ketua Komisi V DPR RI Sigit Sosiantomo saat meninjau lokasi pembangunan NYIA, kemarin (9/10).
“Adisutjipto sudah demikian padat, sebagai gambaran tadi saya dari Surabaya pukul 07.30 baru bisa landing di Adisutjipto pukul 09.30. Mau turun muternya lama sekali, NYIA diharapkan akan menjawab tantangan itu (lonjakan penumpang),” katanya.

Dia mengungkapkan, berdasarkan laporan yang masuk, pembebasan lahan tinggal menyisakan empat persen, itu pun tidak di satu tempat dan bukan di area runway yang akan dikerjakan pertama kali. Diharapkan, AP I juga bisa melakukan pendekatan secara kekeluargaan, karena persoalan sosial kadang sering kali lebih rumit dibanding persoalan teknis.

“Dengan 15 ribu pegawai yang dibutuhkan maka sangat luas lapangan kerja bagi mereka, bahkan untuk peluang-peluang usaha yang belum ada sebelumnya, kedepnkan musyawarah mufakat,” jelasnya.

Melihat proses land clearing, dia pun optimistis target pembangunan tahap pertama meliputi runway, apron, dan terminal penumpang pada 2019 bisa tercapai.

“Jogja sebagai pesaing Bali, maka membutuhkan fasilitas bandara yang komprehensif dan mampu menampung 20 juta penumpang per tahun,” ujarnya.

Sigit menuturkan, posisi NYIA yang berada di tepi laut selatan membutuhkan mitigasi debu, angin, dan tsunami. Dengan kelengkapan mitigasi tersebut, NYIA bisa menjadi bandara percontohan pertama di Indonesia, khususnya untuk bandara yang berada di wilayah pantai selatan.

NYIA yang berada di ketinggian tujuh meter di atas permukaan laut cukup aman jika terjadi tsunami. Belum lagi keberadaan dua alur sungai di ujung barat (sungai Bogowonto) dan timur (Serang) juga sangat menguntungkan untuk meminimalisir dampak tsunami jika terjadi.

Anggota Komisi V DPR RI Idham Samawi mengungkapkan, infrastruktur pendukungnya harus dipikirkan. Sebab NYIA ini akan melayani penerbangan langsung dari Beijing, Kuala Lumpur, Bangkok, Singapura dan bancara internasional lainnya.
“Hotel dan jalur kereta harus disiapkan sejak awal, sehingga penumpang atau wisatawan dari bandara ke objek wisata unggulan di Jogja, Borobudur, Prambanan bisa lebih mudah,” ungkapnya.

Direktur Utama AP I Danang S. Baskoro menyatakan, pihaknya hingga saat ini masih optimistis pembangunan NYIA di Temon, Kulonprogo bisa selesai tepat waktu. Kendati masih menyisakan empat persen lahan yang belum resmi terbebaskan, itu sama sekali tidak akan mengganggu pekerjaan.Hingga 6 Oktober setidaknya 258 hektare lahan telah dibersihkan dari total luasan lahan 587 hektare. Prediksi (target operasional bandara) sampai saat ini masih bisa.(tom/ila/ong)