Ikut Andil Perangi Hoax lewat Karya Edukatif

Media sosial memang tak selalu berpengaruh negatif. Seperti dilakukan Bram Darmawan yang hobi mengunggah video singkat sebagai sarana edukasi. Tak kurang 200 video diunggah mahasiswa Universitas Mercubuana ini ke dunia maya.
DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja
Hampir semua video karya Bram dikemas dalam bentuk komedi dan parodi. Ratusan video berdurasi 15-57 detik karyanya mampu menjawab pro kontra penggunaan gawai di kalangan anak muda, khususnya pelajar.

Bram tak ingin kemajuan teknologi selalu dikaitkan dengan konotasi dampak negatif. Khususnya media sosial (medsos). Meski medsos kerap menunjukkan dampak negatif bukan berarti tak ada sisi positifnya. Terlebih penciptaan medsos sejatinya untuk memudahkan komunikasi dan relasi lintas batas dan waktu hanya dalam satu genggaman gawai. Lepas dari sorotan negatif medsos, sebagian kalangan justru menangkalnya melalui karya kreatif yang mampu mengundang decak kagum.

Bram termasuk salah seorang pemuda yang bisa dibilang tak pernah lepas dari medsos. Hanya, dia tak mau hanya sekadar up date status atau upload foto. Lewat video pendek yang diunggah melalui Instagram, Bram mengajak generasi muda aktif berkreasi dan mengedukasi masyarakat.

“Kalau ide lagi banyak, sehari bisa bikin sepuluh video,” ujar pemilik akun @bramdermawan yang saat ini memiliki lebih dari 16.100 follower.

Ketertarikannya pada gambar bergerak menggiring Bram untuk menggali ide dan mengasah kreativitasnya. Berbagai video dibuat meski hanya mengusung tema-tema ringan.

Setahun berjalan, Bram menggagas untuk membuat wadah atau komunitas yang menampung para netizen dengan hobi yang sama. Tak sedikit anak muda yang bergabung lewat @jogjavidgram. Wadah ini menjadi sarana berbagi ide, bakat, dan kreativitas. Semuanya berbau positif.

“Yang hobi bermusik juga bisa bikin video di situ. Travel, beauty, sport, animal, bahkan ibu-ibu juga bisa bikin tema kids. Atau yang gemar seni. Pokoknya nggak ada alasan untuk tidak berkreasi,” ucap dia.

Kini komunitas berbasis di dunia virtual tersebut diikuti sekurang-kurangnya 200 anggota. Mereka aktif membuat video sesuai dengan passion masing-masing. “Tak sedikit anggota komunitas ini bahkan mampu mendapatkan penghasilan dari video kreasi mereka. Banyak pula yang sudah punya nama sebagai content creator,” lanjut Bram bangga.

Melalui komunitas yang dibuatnya itu Bram berharap lebih banyak anak muda tertarik dan terangsang untuk membuat video kreatif yang edukatif.

Meski menggunakan tagline Jogja, anggota komunitas berasal dari berbagai daerah. Dari Sabang sampai Merauke. Mereka tak hanya berinteraksi lewat dunia maya. Kopi darat pun menjadi agenda rutin anggota komunitas. Baik melalui acara diskusi, workshop, atau kegiatan temu muka lainnya.

Selain manfaat bagi anggota, @jogjavidgram memiliki misi mengangkat berbagai hal tentang Jogjakarta. Khususnya sektor pariwisata. Terlebih destinasi-destinasi wisata yang sejauh ini belum banyak dikenal publik. Museum dan benda-benda bersejarah menjadi objek yang cukup ditonjolkan dalam setiap karya anggota @jogjavidgram. Dengan begitu konten video tak hanya sekadar menghibur, tapi terselip unsur edukasi yang bisa menggiring anak muda berkunjung ke museum. “Harapan kami begitu,” ungkapnya.

Konten positif yang dibuat sekaligus ditujukan sebagai penangkal berita hoax. Bram optimistis, semakin banyak karya menarik bernuansa edukatif, maka lebih banyak pula hoax yang tertepis, sehingga tak sampai mempengaruhi publik.(yog/ong)