JOGJA – Kepedulian terhadap korban kekerasan seksual menginisiatif Ayu Permata Dance Company untuk menampilkan sebuah pertunjukkan tari bertajuk Kami Bu-Ta (7/10). Pertunjukkan ini disajikan denhan konsep pertunjukkan seni rupa yang bagi dalam lima frame. Masing masing frame menyampaikan tentang kekerasan seksual,

“Seni rupa yang memiliki multi interpretasi. Per-frame memiliki interpretasi kekerasan seksual,” ungkap Ayu Permata Sari Koreografer Ayu Permata Dance Company.

Ayu mengatakan, pertunjukkan yang disajikan dalam penampilan tari lebih mengedepankan akibat setelah korban mengalami kekerasan seksual,” Beberapa konsep tari ini diambil dari kisah nyata. Ada yang terpuruk, ada yang menjadi gila, ada yang hidupnya monoton,” ungkap Ayu.

Terutama pada frame kedua, keseharian korban hanya makan, ganti baju, dan tidur, begitu setiap hari. Sebenarnya korban mengalami gangguan jiwa. Akan tetapi, dia sendiri tidak tahu bahwa dia sebenarnya tengah sakit jiwa. Frame ketiga menceritakan tentang peristiwa yang memanggil. Dalam arti bahwa korban kekerasan seksual tidak pernah bisa sembuh dengan sempurna.

Menurut Ayu, pasti ada peristiwa atau kejadian dalam hidup si korban yang membuat dia ingat akan kejadian yang pernah dialaminya. Hal itulah yang digambarkan dengan dia ditarik-tarik. Setiap Bayang-bayang peristiwa tersebut akan selalu menghampirinya.

Ada lima balon dalam frame keempat. Balon tersebut berwarna Merah, Oranye, Merah muda, Hitam, dan Putih. Keempat balon itu pecah dan tersisa masih satu balon putih. Merah merupakan simbol kekerasan seksual, Oranye simbol keceriaan yang hilang, Merah Muda simbol percintaan, Hitam simbol kehidupannya yang sudah hancur, terakhir Balon Putih simbol harapan. Balon-balon yang pecah tersebut kata Ayu menyampaikan tentang hancurnya kehidupan korban.

Hingga terakhir ada balon putih di dalam balon hitam. Bukan tanpa alasan, Ayu mengatakan bahwa mereka ingin menyampaikan kepada korban kekerasan seksual bahwa mereka bisa sembuh jika mereka ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Mereka bisa sembuh jika mereka mau move on,”Balon Putih adalah harapan mereka menjadi lebih baik,” ungkapnya.

Pada frame kelima, Kain merah simbol seksual. Ada adegan menimang bayi kemudian selendang jatuh, hal itu menggambarkan ketika si korban hamil, kemudian keluarga pelaku meminta dia untuk menggugurkan kandungannya. Itu merupakan salah satu kejahatan seksual. Ada adegan pertemanan, menyimbolkan pertemanan yang hilang, dan terkadang hal tersebut datang dari orang terdekat.Ayu menjelaskan bahwa pertunjukkan tari ini sudah persiapkan sejak November 2016.

“Semoga kekerasan seksual bisa berhenti dengan adanya karya ini. Mungkin memang tidak banyak. Tapi setidaknya mampu menyadarkan setiap orang untuk waspada terhadap kekerasan seksual,” harap Ayu.

Salah satu penikmat pertunjukkan tari Ayu Permata Dance Company ini adalah Indiah Wahyu Andari (32).

Menurutnya, pertunjukkan tari ini menarik dengan konsep banyak frame yang mengharuskan penonton untuk bergerak dari frame satu ke frame yang lain.

Pertunjukkan ini menggambarkan korban dan pelaku kekerasan seksual yang keduanya sama-sama tidak bahagia.

“Saya Merasakan seperti di depan mata saya tergambar bagaimana situasi dan mimpi buruk yang dialami si korban. Pertunjukkan ini memvisualisasikan ketakutan dan kecemasan yang dirasakan oleh si korban,” ungkap Indiah.

Indiah mengaku senang dengan tema kekerasan seksual yang diangkat dalam pertunjukkan seni apapun,

“Hal ini dapat menggugah kepedulian masyarakat. Saya berharap pertunjukkan ini dapat menstimulasi seniman-seniman yang lain untuk berkarya khususnya karya2 yang mengangkat kekerasan perempuan dan anak yang masih sering dipandang sebelah mata,” ungkap Konselor ini. (Mg1/ong)