Tingkatkan Populasi Sapi lewat Inseminasi Buatan dan Embrio Transfer

MUNGKID – Pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian terus berupaya meningkatkan produksi sumber protein hewani asal ternak bagi masyarakat.

Salah satu caranya melalui peningkatan mutu genetik ternak.Ada tiga prioritas utama pada program yang ditangani oleh Ditjen Peternakan ini. Pertama, meningkatkan produksi pangan hewani asal ternak. Kedua, meningkatkan nilai tambah dan daya saing peternakan. Ketiga, meningkatkan kesejahteraan rakyat.Agar target tersebut bisa tercapai dalam kurun 2016-2019, pemerintah telah merumuskan beberapa strategi.

Di antaranya, optimalisasi produksi dan penambahan populasi ternak, pengembangan kawasan (terutama pengembangan hijauan pakan ternak (HPT) dan padang penggembalaan), penguatan infrastruktur dan sistem logistik ternak dan produk, pengembangan investasi, dan penambahan induk sapi melalui pemerintah dan swasta.Pelaksanaan program tersebut diawali dengan pencanangan Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (UPSUS SIWAB) pada awal 2017 lalu.”Program ini dijalankan dengan optimalisasi kelahiran ternak dan peningkatan populasi sapi,” jelas dosen Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Magelang Dr drh Supriyanto MS di sela acara Bincang Agribisnis di Stasiun Radio Fast FM Magelang(12/10).

Dikatakan, upaya peningkatan populasi sapi bisa dilakukan melalui inseminasi buatan (IB) dan embrio transfer (ET). IB merupakan teknik memasukkan mani/semen ke dalam alat reproduksi ternak betina sehat untuk membuahi sel telur menggunakan alat inseminasi.

Sedangkan ET adalah teknik memasukkan embrio ke dalam alat reproduksi ternak betina sehat dengan alat tertentu. Dua teknik ini memiliki tujuan yang sama, yakni membuat ternak betina bunting.Induk ternak yang dititipi embrio disebut resipien.

Sedangkan ternak penerima inseminasi buatan disebut aseptor. Inseminasi buatan dilakukan pada hari ketika ternak tersebut mengalami birahi (estrus). Embrio transfer dilakukan pada hari ke-7 untuk sapi. Sedangkan pada kerbau dilakukan di hari ke 5 setelah birahi.Adapun ternak resipien harus memenuhi beberapa syarat. Yakni, masuk rumpun sapi FH, Simental, PO, dan Brahman.

Selain itu induk dalam posisi tidak bunting dan memiliki organ reproduksi dan siklus birahi normal. Serta memiliki cacatan reproduksi yang baik.Syarat lainnya, performa atau penampilan tubuh ternak resipien harus baik dan sehat dengan Body Condition Scor (BCS) 3 -3,5 pada skala 5 dengan bobot minimal 350 kilogram. Resipien juga harus bebas dari penyakit menular strategis, terutama penyakit reproduksi, dan terseleksi setelah palpasi rectal. Pada salah satu ovarium meliliki Corpus Luteum (CL) fungsional di hari ke 6 – 8 setelah birahi.

“Ternak resipien harus tidak pernah mengalami gagal bunting dengan IB lebih dari dua kali,” tutur Supriyanto, yang juga menjabat kepala Laboratorium Kesehatan Hewan STPP Magelang.

Menurut Supriyanto, Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang telah memiliki sapi hasil embrio transfer. Yakni Sapi Belgian Blu berbobot lahir 62,5 kilogram. Proses kelahiran sapi yang dirawat di Balai Embrio Transfer, Cipelang, Bogor, ini melalui operasi sesar. Sebab, bobot lahirnya dua kali lipat dibanding sapi biasa. Belgian Blu saat ini berusia delapan bulan dengan bobot 260 kilogram. (*/yog/ong)