Oleh : Stella Vania Puspitasari S.Psi
( Admin dan Moderator Grup Diskusi Online Psikologi dan Kesehatan SPINMOTION)
ISTILAH “anak broken home” sangat beken di Indonesia untuk menjelaskan mengenai anak yang orang tuanya bercerai atau dengan kata lain menjadi keluarga single parent.
Sayangnya, istilah tersebut mengandung stigma negatif yang ditempelkan untuk anak yang orang tuanya bercerai. Mereka dicap sebagai anak bermasalah. Akan tetapi, sungguhkah demikian?

Dari hasil penelitian beberapa ahli memang dapat disimpulkan bahwa anak yang orang tuanya bercerai lebih rentan atau riskan mengalami masalah dalam hidupnya. Tentu hal ini menjadi wajar dan masuk akal, karena ada yang kurang lengkap dalam hidup mereka. Ada yang berbeda antara mereka dengan anak-anak lain yang hidup bersama kedua orang tuanya. Perbedaan kondisi ini menimbulkan adanya perbedaan juga dalam kecenderungan emosi, cara berpikir dan berperilaku anak-anak yang orang tuanya bercerai.

Menurut beberapa penelitian, anak yang orang tuanya bercerai memang lebih rentan mengalami masalah emosional yang dapat dilampiaskan secara internal, misalnya menyakiti diri sendiri, atau eksternal, misalnya menjadi lebih agresif pada orang lain atau justru menjadi tertutup pada orang lain. Akibatnya, mereka pun menjadi lebih rentan mengalami masalah di sekolah, seperti kurang konsentrasi atau prestasi yang kurang baik. Namun perlu digarisbawahi bahwa ini hanyalah faktor risiko yang dimiliki oleh anak-anak yang orang tuanya bercerai. Artinya, bisa saja anak yang orang tuanya bercerai tidak mengalami demikian.

Ketika saya berbincang dengan beberapa single parent, beberapa dari mereka menyampaikan kisah mengenai anak-anaknya. Banyak dari mereka bersyukur anak mereka dapat tumbuh dan berkembang layaknya anak pada umumnya yang memiliki sepasang orang tua.

Mereka tetap dapat mengikuti nasihat orang tuanya, mengikuti pembelajaran dan berprestasi di sekolah, mengalami perkembangan emosi yang baik. Tetap dapat berelasi baik dengan orang tua yang tidak tinggal bersama dengannya, saudara, teman-teman, guru dan yang lainnya.

Lantas mengapa ada anak dengan orang tua bercerai yang tetap dapat berfungsi normal namun ada yang benar-benar jatuh dalam masalah? Ada beberapa hal yang dapat menjelaskan hal itu. Hal yang pertama adalah adanya perbedaan pengalaman antara anak yang satu dengan anak yang lain. Mungkin saja seorang anak, sekalipun orang tuanya bercerai, namun orang tua tetap dapat menjalin relasi baik, setidaknya di depan anak. Hal ini dapat membuat anak tetap merasa bahwa orang tuanya tetap ada untuk dia dan mereka baik-baik saja, atau bisa saja anak tidak merasa bersalah meski orang tuanya bercerai. Hal yang kedua adalah adanya perbedaan stigma atau label yang disematkan pada anak itu. Label atau stigma “anak broken home” dan berbagai masalahnya bisa saja terinternalisasi dalam diri anak dan memengaruhi perilakunya sehingga anak benar-benar menampilkan dirinya seperti apa yang distigmakan kepadanya.

Maka dari itu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan supaya anak yang orang tuanya bercerai tidak benar-benar menjadi “anak broken home”.

Dari pihak single parent, beberapa hal yang bisa dilakukan di antaranya adalah berusaha untuk menjalin kelekatan yang positif dengan anak. Jika memungkinkan, tetap libatkan mantan pasangan Anda untuk mendampingi dan membimbing anak, dan tidak “menularkan kebencian” tentang mantan pasangan pada anak. Libatkan juga keluarga yang lain untuk mendampingi anak, terutama figur dewasa yang berbeda jenis kelamin dengan orang tua yang tinggal bersama anak, misalnya bagi seorang anak dari single mother, libatkanlah kakek, paman atau laki-laki dewasa lain dalam mendampingi anak, sehingga anak tetap dapat mempersepsi sosok dan peran laki-laki dewasa dan hal ini dapat membantu perkembangan anak.

Selain itu, dari pihak kita sebagai masyarakat, salah satu cara untuk mendukung perkembangan anak yang orang tuanya bercerai adalah dengan tidak memberikan label atau stigma negatif pada anak dari keluarga single parent. Mari saling menjaga kesehatan mental satu sama lain dengan tidak memberikan label atau stigma negatif pada anak dari keluarga single parent!. (*/ila/ong)