Langganan Juara Kompetisi Ilmu dan Teknologi Pertambangan

Semangat Eko Hardiyanto meraih gelar sarjana patut diacungi jempol. Dia membiayai sendiri kuliahnya dengan hasil kerjanya yang hanya bermodalkan ijazah SMK.
VITA WAHYU HARYANTI, Sleman.
TERKENDALA biaya tak menyurutkan tekad Eko Hardiyanto untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Selepas lulus SMK, pemuda 23 tahun itu memilih langsung bekerja. Kebetulan dia diterima di perusahaan pertambangan bauksit, Maluku. Saat itu usianya menginjak 18 tahun. Dia nekat merantau jauh dari keluarganya demi mengumpulkan uang untuk biaya kuliah. Kini dia pun berhasil memanen buah atas jerih payahnya itu. Bukan hanya lulus, Eko berhasil menjadi lulusan terbaik di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jogjakarta.

“Sebelum ke Maluku saya menjalani program magang di Kalimantan,” ungkapnya di sela wisuda sarjana. Di Maluku Eko bekerja sebagai supervisor perusahaan pertambangan selama dua tahun. merasa cukup punya tabungan untuk biaya kuliah, Eko pun kembali ke kampung halaman untuk melanjutkan pendidikannya. Di UPN, Eko mengambil Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi Mineral. Dia mampu menyelesaikan masa studi dalam tempo 4 tahun 1 bulan.

“Dari dulu saya memang ingin kuliah di sini (Jurusan Pertambangan UPN),” kata pemuda kelahiran Sleman, 4 April 1993.

Sebagai wisudawan terbaik Eko memperoleh predikat cum laude dengan indeks prestasi kumulatif 3,53. Tak hanya itu, Eko juga meraih penghargaan Karya Cendekia bersama sembilan wisudawan lain. Karya Cendekia diberikan kepada mahasiswa yang tidak hanya memiliki prestasi akademis dan lulus dalam waktu singkat. Namun juga berprestasi di berbagai ajang perlombaan, serta aktif dalam kegiatan organisasi maupun sosial. Selain mendapat penghargaan, Eko pun memperoleh hadiah tabungan dari kampusnya.

Anak pertama dari Daryono dan Vini Vidayanti ini memiliki berbagai pengalaman menjadi asisten dan penulis Journal of Envirinmental Science and Engineering. Dia juga tercatat aktif dan kerap menjuarai berbagai ajang perlombaan. Seperti juara I Mine Surveying pada 7th Yogya Mining Competition 2015; juara I Hand Steeling dan Mine Surveying di ajang Indonesian Students Mining Competition (ISMC) 10th 2016 di Institut Teknologi Bandung (ITB); juara I Panning, Joint Measuring, Rock and Mineral Identification pada YMCC 2016 di UPN Veteran; serta juara II Tie In, Crushing and Grinding, Swede Sawing di ISMC 10th 2016 di ITB.

Bagi Eko, ajang paling berkesan ketika mengikuti Indonesian Students Mining Competition (ISMC) 10th 2016 di ITB. Sebab, kompetisi Hand Steeling dan Mine Surveying saat itu diikuti mahasiswa dari berbagai negara ASEAN dan Australia.

“ISMC adalah kompetisi pertambangan tingkat regional dan kami berhasil jadi juara umum ke tiga setelah 11 tahun vakum juara. Ini merupakan hal paling membanggakan menurut saya,” ceritanya.

Selain langganan juara, alumnus SMKN 2 Depok ini juga aktif di banyak organisasi. Dia tercatat sebagai pengurus HMPS Teknik Pertambangan dan UKM Islam-Nurul Ilmi. Berbekal ijazah S1 dan pengalamannya, Eko berencana melamar pekerjaan di perusahaan-perusahaan pertambangan level nasional. (yog/ong)