GUNUNGKIDUL-Abrasi yang terjadi di Pantai Baron, Kemadang, Tanjungsari, diperkirakan akan terulang kembali tahun depan. Ini karena abrasi tersebut dinilai merupakan siklus tahunan. “Pada Rabu malam, abrasi terjadi di Pantai Baron, pantai lain aman,” kata Koordinator Sar Satlinmas Korwil II Gunungkidul Marjono, kemarin (19/10).

Pengikisan tanah oleh gelombang air laut ini mengakibatkan sejumlah kerusakan. Dari hasil pendataan, sedikitnya ada tiga kapal jukung milik nelayan koyak dihantam ombak besar. “Tiga kapal jukung itu masing-masing milik, Giman, Wasiman, dan Rudi,” ujarnya.

Rata-rata, kerusakan kapal cukup parah, karana bagian lambung bocor dan sayap patah. Ini bertujuan agar kapal yang lain aman, saat ini posisi tempat bersandar semakin dijauhkan dari bibir pantai.”Dan memang dengan adanya aliran sungai di Pantai Baron, otomatis air belum mau surut,” ucapnya.

Selain kapal remuk, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) juga terancam. Akibat akbrasi, bagian pondasi mulai tergerus. Kerusakan bisa berlanjut jika tinggi gelombang belum surut. “Akan tetapi, sampai dengan saat ini kerusakan bangunan TPI belum begitu berdampak terhadap aktifitas pedagang,” ungkapnya.

Transaksi jual beli berjalan seperti biasa, kecuali belayan yang harus libur lantaran menunggu gelombang pasang surut. Menurut Marjono, puncak gelombang tinggi berlangsung pada Rabu malam (18/10). Dalam beberapa hari ke depan diperkirakan surut. Ketinggian gelombang Rabu malam mencapai 12,5 fit atau 3,8 meter. “Abrasi Pantasi Selatan merupakan siklus tahunan,” bebernya.

Sekretaris SAR Satlinmas Korwil II Gunungkidul Surisdiyanto mengaku terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menyikapi dampak abrasi. Yang terpenting pada saat sekarang adalah meminimalisasi kerugian. “Kami mengimbau kepada nelayan maupun wisatawan agar waspada. Patuhi imbauan petugas dan taati rambu tanda bahaya,” kata Surisdiyanto. (gun/din/ong)