Rangkaian Hari Jadi, Kulonprogo Ingin Pecahkan Rekor Muri

KULONPROGO – Ada yang istimewa di Kulonprogo selama empat hari ini. Sejak Rabu (18/10) pukul 08.10 hingga Sabtu (21/10) pukul 14.10 gamelan terus ditabuh tanpa henti di Alun-Alun Wates.

Ya, rangkaian Hari Jadi Ke-66 Kulonprogo tahun ini memang meriah. Pemkab Kulonprogo berupaya memecahkan Muri (Musim Rekor Indonesia) dalam kategori menabuh gamelan terlama 66 jam tanpa henti. Secara simbolis, Bupati Kulonprogo Hasto wardoyo mengawali dengan menabuh kenong.

Gending-gending Jawa selanjutnya mengalun tanpa henti yang dimainkan para pengrawit (penabuh gamelan) di empat panggung yang berjajar di sisi utara Alun-Alun Wates.

“Kegiatan ini untuk melestarikan budaya dan diharapkan mampu mempromosikan nama dan budaya Kulonprogo. Pemecahan rekor Muri ini juga masih satu rangkain kegiatan Hari Jadi Ke-66 Kabupaten Kulonprogo,” ucap Hasto.

Wakil Bupati Kulonprogo Sutedjo menambahkan, kegiatan ini sekaligus menjadi bukti bahwa potensi seni karawitan di Kulonprogo besar. Diharapkan seni karawitan ke depan semakin berkembang.

“Khususnya dengan melibatkan anak-anak SD dan SMP sebagai pengrawit. Sekaligus sebagai bukti adanya regenerasi pengrawit. Ini juga mendukung pelaksanaan Perda Pendidikan Karakter,” imbuhnya.

Senior Manajer Muri Sri Widayati menyatakan, pagelaran spektakuler ini jika berhasil akan memecahkan rekor pagelaran karawitan nonstop terlama yang sebelumnya dipegang oleh Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yakni 57 jam.

Dalam memecahkan rekor itu, lanjutnya, Kulonprogo harus melebihi minimal 10 persen, yakni minimal harus selama 63 jam nonstop. Proses pergantian antarkelompok pengrawit tidak boleh ada jeda waktu.

“Ketika tiba waktu salat atau azan, diberi waktu toleransi 10 menit tapi harus diganti kemudian. Atau bisa terus berjalan dengan suaranya dipelankan atau soud system-nya dimatikan,” ucapnya.

Kepala Dinas Kebudayaan Kulonprogo Untung Waluyo menandaskan, pagelaran karawitan pemecahan Muri ini melibatkan 48 kelompok pengrawit. Di antaranya dari kelompok usia anak-anak SD dari 12 kecamatan, anak usia SMP dari 12 kecamatan, masyarakat, dan generasi muda dari 12 kecamatan. Ada juga dari forum karawitan Kulonprogo, forum dalang Kulonprogo, serta kemitraan dari ISI, UNY, dan SMKI.

Pengrawit yang dilibatkan jumlahnya mencapai 1.200 orang lebih, terbagi dalam 48 kelompok yang akan menabuh selama 66 jam. Masing-masing kelompok akan menabuh gamelan dengan durasi sekitar 90 menit dengan konsep saling susul tanpa jeda.

“Waktu 66 jam memang sengaja kami samakan dengan momen Hari Jadi Kulonprogo yang kebetulan memasuki 66 tahun,” tandasnya. (tom/ila/ong)