Tumpeng Sangga Buwana Simbol Derajat Tertinggi

JOGJA – Sepuluh jenis tumpeng dihidangkan sebagai menu khusus bagi ribuan orang yang hadir di acara Kenduri Ageng Pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DIJ Periode 2017-2022 di Bangsal Kepatihan kemarin (20/10).
Tumpeng-tumpeng tersebut memiliki makna tersendiri. Tumpeng Sangga Buwana, misalnya. Menggambarkan derajat manusia paling tinggi dalam kehidupan.

“Bisa juga diartikan sebagai simbol seorang raja yang memiliki derajat tinggi,” jelas Kabid Humas Dinas Komunikasi dan Informatika DIJ Amiarsi Harwani di sela acara.

Tumpeng tersebut diletakkan di atas selembar alas berupa telur dadar yang berbentuk bundar. Telur ini dimaknai sebagai awal kehidupan setelah mengalami berbagai macam pengalaman. Hal itu selaras dengan kondisi DIJ, di mana HB X akan menjalankan visi misi baru bersama PA X dalam upaya menyejahterakan masyarakat lima tahun ke depan. Berbekal pengalaman menjalankan pemerintahan selama lima tahun belakangan ini.
“Selain tumpeng sangga buwana, ada tumpeng kendhit, robyong, urubing dammar, dan punar,” jelas Amiarsi.

Antusiasme masyarakat untuk bisa bersalaman dengan gubernur dan wakil gubernur DIJ sangat tinggi. Mereka bahkan rela antre lebih dari satu jam untuk menyalami Hamengku Buwono (HB) X dan Paku Alam (PA) X.

Tak ada jarak dan sekat dalam acara itu. Masyarakat dari berbagai golongan mendapat porsi yang sama, baik saat bersalaman dengan HB X dan PA X, maupun ketika menikmati hidangan yang tersedia. Siang itu semua yang hadir menjadi tamu istimewa gubernur dan Wagub DIJ. Usai bersalaman masyarakat bebas memilih menu yang sebagian besar berupa kuliner tradisional. Pun demikian sepuluh tumpeng khusus.

Kenduri Ageng tidak hanya menarik perhatian warga DIJ. Banyak di antara tamu adalah turis mancanegara. Seperti Anna,29, warga Jerman yang juga alumnus Universitas Gadjah Mada. Anna menghadiri Kenduri Ageng mengikuti ajakan temannya.
“Kegiatan yang sangat unik. Saya sangat suka mengikutinya apalagi mengetahui akan bersalaman dengan seorang raja,” katanya kepada Radar Jogja. Kehadiran Anna di Bangsal Kepatihan itu untuk pertama kalinya. Meski dia telah lama tinggal di Jogja.

Setelah lulus kuliah dan meninggalkan Jogja, dia masih sering mencari informasi tentang Jogja dan rutin berkunjung setiap setahun sekali. “Makanya begitu tahu ada kegiatan ini saya sangat tertarik mengikutinya,” ucap Anna yang mengaku bangga bisa bersalaman dengan HB X.

Kenduri Ageng juga banyak dihadiri warga luar DIJ. Salah satunya Azif Prayani,65. Pensiunan dari Samarinda, Kalimantan Timur, ini, mengaku kehadirannya di Bangsal Kepatihan karena ingin bertemu HB X.
“Mumpung lagi di Jogja sekalian datang ke acara ini,” ujar pria yang sudah 2 minggu berada di Jogja.

Menurut Azif, HB X merupakan sosok sentral masyarakat Jogja. Dalam rumah tangga, Ngarso Dalem, sapaan HB X, diibaratkan sebagai orang tua yang bisa mengayomi anak-anaknya. “Keberadaan Sultan ini membuat toleransi antarsuku di Jogja menjadi harmonis,” pujinya.

Solikhin warga Ngasem, Jogja, berdoa agar raja Keraton Jogja itu tetap diberi kekuatan memimpin DIJ hingga masa akhir jabatan. “Usia Sultan sudah semakin sepuh, semoga tetap diberikan kemampuan mengayomi warga,” harapnya.

Dalam kesempatan itu, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, istri HB X, menuturkan, dari sekian banyak orang yang mengucapkan selamat atas dilantiknya HB X sebagai gubernur DIJ, sebagian besar menaruh harapan agar kepemimpinannya bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. “Sesuai visi misi gubernur yang telah disampaikan di depan dewan, peningkatan kesejahteraan masyarakat menjadi prioritas,” ujarnya.

Sementara HB X berharap mendapatkan kelancaran selama menjalankan roda pemerintahan selama lima tahun ke depan. “Harapan dari rakyat agar ke depan berjalan baik dan lancar,” ucapnya sembari meninggalkan Bangsal Kepatihan.(bhn/yog/ong)