Benih Tongkol Satu, Hasil Panen Per Batang Lebih dari Satu

MUNGKID- Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Magelang Jurusan Penyuluhan Peternakan (Jurluhnak) terus berupaya mengembangkan potensi hasil pertanian dalam upaya mendukung program pemerintah menuju swasembada pangan. Salah satu yang terus menjadi kajian penelitian adalah jagung (Zea mays, L.). Jagung merupakan komoditas strategis kedua setelah padi. Sebab, jagung termasuk salah satu komoditas serealia sebagai bahan pangan, pakan ternak, dan bahan baku energi, serta bahan baku industri.

Berdasarkan banyak penelitian ilmiah, penggunaan jagung sebagai pakan ternak (khususnya untuk unggas) mencapai 30-60 persen. Atas dasar penelitian inilah mahasiswa STPP Magelang Jurluhnak didorong turut serta mempelajari komoditas jagung tersebut.

“Untuk kajian kami menanam jagung hibrida di lahan seluas 1.500 meter persegi di Desa Pagersari, Mungkid, Kabupaten Magelang,” jelas Ir Nuryanto MS selaku dosen pembimbing tugas akhir mahasiswa semester VII STPP Magelang Jurluhnak yang meneliti jagung hibrida.

jagung tongkol dua

Di lahan tersebut jarak tanam tiap benih ditentukan dengan panjang 70 cm dan lebar 20 cm. Sampai saat ini umur tanaman menginjak 45 hari. Rata-rata tinggi tanaman sebelum berbunga mencapai 2,26 meter dan bagan warna daun (BWD) skala 4.

“Tanaman cukup subur dan tumbuh tinggi dengan pemupukan berimbang, tepat dosis dan waktu, ditambah pupuk kandang,” lanjutnya.

Menurut Nuryanto, pola pemupukan yang baik dengan perlakuan khusus model penanamannya, tanaman jagung mampu menghasilkan tongkol lebih dari satu pada setiap batangnya. Meskipun benih yang ditanam jenis hibrida bertongkol satu.

“Kajian ini bukanlah uji genetik, tetapi lebih mengarah pada tatalaksana pemeliharaan tanaman,” papar Nuryanto. Sejauh ini penelitian menunjukkan hasil signifikan. Benih jagung hibrida tongkol satu yang dikelola sesuai dengan petunjuk teknis penanaman jagung dapat tumbuh tongkol lebih dari satu. Nuryanto berharap, hal ini bisa menjadi perangsang bagi petani untuk menanam jagung sesuai dengan petunjuk teknis. “Semoga model penanaman ini mudah diadopsi oleh petani,” harapnya.

Dikatakan, ide kajian itu sendiri diperoleh dari seorang petani yang berhasil menanam jagung bertongkol lebih dari satu. Namun masih dalam jumlah terbatas dan belum dirancang dengan kaidah statistik. Bila kajian ini berhasil, tentu akan dapat menjadi model penanaman jagung hibrida yang lebih menguntungkan.(*/yog/ong)