JOGJA – Tim basket putra SMP Budi Mulia Dua Jogja (BMD) akhirnya membawa pulang trofi champion Junio JRBL 2017-2018 Jogja Series tadi malam. Hasil tersebut merupakan penantian setelah mereka terakhir meraih champion pada 2012.

Pada Final Party tadi malam, BMD memupuskan peluang SMP Stella Duce 1 Jogja (Stece) mengawinkan gelar juara. Sebelumnya, tim putri Stece meraih champion. Lewat laga sengit, BMD menutup game 67-52.

Tim putra BMD mampu membawa pulang kembali gelar champion untuk kali kedua. Lima tahun lalu, pada 2012 mereka meraih champion. Sekaligus menjadi obat penawar tim putri yang meraih runner-up.

Kemenangan BMD tidak mudah. Mereka harus melalui laga sengit, karena pemain Stece pun mengincar gelar juaranya yang ketiga. Namun konsistensi pemain BMD menggenapi mimpinya menjadi jawara kembali.

Kejar mengejar poin pun tak terelakkan. Di awal kuarter, Stece unggul lebih dulu. Nico Wijaya dkk membuat selisih tiga poin di penutupan kuarter pertama 13-17.

Memasuki sepuluh menit kedua, Syekhan Manzis Effendi dkk mencoba mengejar. Variasi serangan bertubi-tubi dilancarkan. Berhasil. BMD membalik keadaan dan menutup dengan skor 30-26.

Pertandingan semakin panas setelah half time. Dua kuarter penentuan menjadi taruhan. Tensi permainan meningkat, dengan adu defense dan offense yang membuat ribuan mata penonton ikut dibuat tegang.

Pada kuarter penentu, lima pemain Stece berturut-turut terkena fouls out. Kondisi tersebut merugikan tim, di kala skor Stece tertinggal. Meski mencoba menyamakan kedudukan, skor BMD semakin sulit terkejar.

“Kuncinya konsistensi, mental anak-anak ngga kendor meski di awal tertinggal,” ujar Coach BMD Danny Kusuma usai selebrasi.

Kemenangan anak asuhnya merupakan buah kerja keras dan latihan selama ini. Teamwork solid juga membuat timnya memberikan permainan yang baik. Apalagi di saat semua tensi pemain naik, anak asuhnya mampu menahan diri dan menjaga agar tidak fouls.

“Tahun depan kami akan berupaya mempertahankan, karena itu pasti lebih berat,” ujarnya.

Coach Stece Lie Gwan Chin tak memungkiri, lima pemain yang keluar membuat timnya timpang. Apalagi di kondisi genting ketika skor tertinggal. Sedangkan pemain yang tersisa, justru bermain hati-hati karena takut terkena fouls.

“Ini buat pelajaran anak-anak. Mereka harus kontrol emosi dan lebih memahami defense yang benar itu bagaimana,” ujarnya. (dya/iwa/ong)