BANTUL – Geliat penataan pesisir pantai selatan mulai terlihat. Kemarin (23/10) Satpol PP mendata sekaligus melayangkan surat peringatan pertama kepada seluruh pemilik tempat hiburan karaoke di wilayah Pantai Parangkusumo.
Dalam surat teguran pertama tersebut tertulis bahwa pemilik tempat hiburan malam ini diberikan batas waktu hingga tujuh hari untuk melakukan penutupan.

“Ada 41 pelaku usaha yang terdata,” sebut Sekretaris Satpol PP Bantul Jati Bayu Broto di sela pendataan dan pemberian surat peringatan pertama kemarin.

Bekas sekretaris Dinas Pariwisata ini mengakui rencana penutupan juga buntut efek buruk yang ditimbulkan. Tak jarang keberadaan tempat hiburan malam ini memicu keresahan warga. Lantaran sering menjadi pusat peredaran minuman keras. Juga, sarang prostitusi terselubung.

“Pernah ada konflik antara warga dan pemilik karaoke,” ucapnya.

Dikatakan, penertiban ini juga bertujuan menertibkan seluruh tempat hiburan ilegal. Jati mencatat seluruh tempat hiburan karaoke berstatus ilegal. Ini melanggar Perda Nomor 4 Tahun 2011 tentang Izin Bangunan Gedung dan Perda Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penyelenggara Tanda Daftar Usaha Pariwisata. “Kami menegakkan aturan,” tegasnya.

Jati mengingat, pemkab bersama Polres Bantul pernah melakukan penertiban pada 2013. Tapi, bisnis ini kemudian kembali menjamur. Lantaran minimnya pengawasan. Masyarakat sekitar juga tidak melakukan penolakan.

Kendati begitu, Jati melihat keberadaan tempat hiburan malam ini sebenarnya memiliki potensi. Terutama, untuk menarik wisatawan. Dengan catatan andai dikelola dengan profesional. “Izinnya diurus. Warga juga mempersilakan,” katanya.

Lurah Desa Parangtritis Topo mengungkapkan hal senada. Menurutnya, keberadaan tempat hiburan ini berpengaruh buruk terhadap lingkungan sosial. “Suaranya juga bising saat malam hari,” keluhnya.

Oleh karena itu, Topo mewakili masyarakat sepakat dengan upaya pemkab. Toh, seluruh bangunan tempat hiburan karaoke berdiri di atas tanah Sultan Ground secara ilegal. “Nggak ada yang mengurus izin,” ketusnya.

Seorang pemilik tempat hiburan karaoke di kawasan Pantai Parangkusumo mengaku banyak pemilik yang telah memindah usahanya ke wilayah Gunungkidul. Ada juga yang memilih menutup usahanya.

“Setelah ada keributan (antara warga dan pemilik karaoke) beberapa waktu lalu,” ungkap pria yang identitasnya enggan dikorankan ini.

Dengan penertiban ini, sumber ini khawatir praktik prostitusi di kawasan Pantai Parangkusumo kian menjadi-jadi. Sebab, terbuka kemungkinan para pelaku yang terlibat dalam dunia karaoke banting setir. (zam/ila/ong)