Rasa Manisnya Bikin Bule Kepincut

Rasa manis dan sedikit sensasi asam membuat Salak Pondoh Sleman digemari. Tak hanya di dalam negeri, rasa snake fruit ini juga membuat bule-bule penasaran. Bahkan kini salak pondoh sudah mulai diekspor ke Selandia Baru.
DWI AGUS, Sleman
SALAK PONDOH khas Sleman mulai menginvasi Selandia Baru. Langkah awal ditandai dengan pengiriman 100 kilogram salak pondok oleh asosiasi petani salak Prima Sembada. Pengiriman jalur udara melalui Jakarta, transit Singapura dan langsung menuju Selandia Baru.

Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia Trevor Matheson mengaku antusias atas perjanjian dagang tersebut. Pengiriman ini tergolong sebagai ekspor perdana buah yang dianggap eksotis tersebut. Terlebih di negaranya, buah salak masih terdengar asing.
“Warga Selandia Baru masih belum mengenal apa itu buah salak, sehingga jadi tantangan bagi kami untuk mengenalkan. Impor salak baru kali ini. Sebelumnya dengan Indonesia, kami sudah ekspor kiwi dan apel,” jelasnya di Rumah Kemas Asosiasi Prima Sembada Trumpon Merdikorejo, Tempel, kemarin (23/10).

Penjajakan kerja sama ekspor buah salak sejatinya sudah berlangsung beberapa bulan lalu. Diawali dari pendampingan standardisasi ekspor dan pengemasan. Selanjutnya pemenuhan syarat-syarat ekspor, termasuk standar sertifikasi dari Selandia Baru.

Kerja sama ini berawal dari bantuan sosial pasca Erupsi Merapi 2010. Kala itu pemerintah Selandia Baru mengirimkan bantuan yang sifatnya penyokong ekonomi. Salah satunya mendukung atmosfer ekonomi di kawasan Lereng Gunung Merapi bangkit kembali.

“Bersama BPBD dan BNPB menyalurkan sejumlah bantuan guna pemberdayaan ekonomi. Progres bantuan setelah tujuh tahun sangatlah bagus. Pasar salak tidak lagi domestik tapi mulai menyentuh ranah ekspor,” ujar Trevor.
Trevor memilih menyebut salak dengan nama Salaca ketimbang snake fruit. Menurutnya, salak tergolong sebagai buah eksotis khas Asia. Salak tumbuh hanya bisa ditemui di wilayah Indonesia, utamanya di Sleman.

“Kalau yang salak pondoh cuma ada di Sleman. Sudah mencicipi dan rasanya enak dan segar,” katanya.

Ketua Asosiasi Prima Sembada Maryono mengungkapkan, ekspor awal menerapkan sistem sampel. Pengiriman 100 kilogram salak dilakukan oleh satu perwakilan petani salak di Turi, Tempel, dan Pakem. Selanjutnya sistem akan dikembangkan sesuai permintaan ekspor.

Mengenai permintaan, dirinya optimistis bisa berjalan optimal. Terlebih saat ini anggota dari Prima Sembada mencapai 1.400 petani. Dalam setahun para petani salak mampu menghasilkan setidaknya 4.000 ton salak.

“Jadi kalau per minggu mau kirim tiga sampai lima ton kami siap. Ekspor ini melengkapi sejumlah pengiriman salak ke luar negeri. Salah satu yang masih rutin kirim ke Tiongkok sampai dua ton per minggu,” jelasnya.

Guna memenuhi kualitas ekspor, Prima Sembada menyiapkan salak Grade B. Salak ini memiliki tingkat kematangan 60 hingga 70 persen. Untuk satu kilogram salak pondoh grade B berisikan hingga 16 biji salak.

Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian Banun Harpini berharap kerja sama berjalan ideal. Salah satunya adalah sertifikasi standar ekspor buah salak. Tujuannya agar tidak ada upaya pemalsuan pemenuhan standar eksport salak.
“Sertifikasi berupa standar impor dari pemerintahan Selandia Baru. Sertifikasi juga dipermudah karena sistemnya elektronik. Sehingga mampu mencegah pemalsuan sertifikasi,” jelasnya. (ila/ong)