MUNGKID- Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Magelang Jurusan Penyuluhan Peternakan (Jurluhnak) terus berupaya menyukseskan program nasional dalam pemenuhan kebutuhan daging bagi masyarakat. Beberapa waktu lalu STPP Magelang kedatangan tamu dari Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang, yakni Dr Muh Imron SPt MSi dan Laelatul Qhoiriyah Amd&Sikin. Kehadiran dua tokoh tersebut guna melaksanakan kesiapan teknis dan menyeleksi ternak resipien untuk transfer embrio sapi Belgian Blue (BB) yang dipelihara STPP Magelang.

“Bersama tim BET Cipelang kami berusaha melakukan terobosan-terobosan melalui uji coba pengembangan sapi Belgian

Blue,” ujar dosen STPP Magelang Jurluhnak Dr drh Supriyanto MS kemarin (24/10).
Dikatakan, sapi yang berasal dari Belgia tersebut memiliki persentase karkas yang tinggi karena memiliki karateristik “double muscle”.

Sapi jenis ini diharapkan bisa dikembangkan di Indonesia untuk meningkatkan produktivitas ternak potong nasional.
Kendati demikian, Supriyanto menyatakan ada beberapa kelemahan sapi unggulan ini. di antaranya, sering mengalami kesulitan melahirkan sehingga memerlukan tindakan operasi cesar. Terutama dalam pembibitan bangsa murni Belgian Blue.

Sapi ini juga memerlukan manajemen pemeliharaan dan kualitas pakan yang baik untuk mendukung metabolisme tubuh. Agar pertumbuhan otot dapat berkembang secara optimal. Karena itu diperlukan arah pengembangan yang tepat agar pemanfaatan potensi genetik sapi Belgian Blue lebih optimal. Caranya melalui pembibitan galur murni maupun persilangan.

Adapun sasaran kegiatan itu demi menjamin ketersediaan bibit dan benih sapi Belgian Blue di dalam negeri. Serta tersedianya donor dan pejantan sapi jenis itu.

Aplikasi transfer embrio dilaksanakan dalam tiga tahapan, yaitu persiapan, pelaksanaan, serta evaluasi dan pelaporan.
Pada tahap persiapan dilakukan penyediaan barang dan bahan operasional. Kegiatan ini dilakukan melalui proses tender/lelang terbuka sesuai peraturan yang berlaku. Pemilihan bahan operasional didasarkan atas asas efektif dan efisien yang dapat terdiri atas obat-obatan dan hormon, alat dan bahan, serta peralatan administrasi.

Masuk tahap pelaksanaan, diawali dengan seleksi resipien. Supriyanto mengatakan, ternak resipien harus memenuhi persyaratan, di antaranya: dara atau induk dalam kondisi tidak bunting; termasuk rumpun sapi FH, Simmental, Lemousin, PO, dan Barhman; memiliki organ reproduksi baik dan siklus birahi normal, serta punya catatan reproduksi.

Selain itu, performa tubuh baik dan sehat dengan Body Condition Score (BCS) 3-3,5 pada skala 5. Berat badan minimal 450 kilogram, kondisi sehat dan bebas penyakit hewan menular strategis (terutama penyakir reproduksi); terseleksi setelah papasi rectal (pada salah satu ovarium memiliki corpus luteum (CL) fungsional pada hari ke 6 – 8 setelah birahi); serta tidak pernah mengalami gagal bunting dengan IB lebih dari dua kali.

Selanjutnya penyiapan resipien. Ditempuh dengan beberapa cara. Pertama, birahi alami (berahi alam). Pengamatannya dilakukan rutin setiap pagi, siang, dan sore, serta malam. Kedua, sinkronisasi berahi dengan preparat hormon progtaglanding.

“Sebelum melakukan sinkronisasi berahi, pastikan sapi dalam keadaan tidak bunting,” jelas Supriyanto. Lalu ketiga, sinkronisasi berahi dengan preparat progesterone. Peparat progresteron intravaginal (Cuemate/CIDR) diimplantkan pada hari ke 0 (pastikan sapi tidak bunting) dan bisa ditambah penyuntikan 2 mg estradiol benzoate. Pada hari ke 8, Cuemate dilepaskan bersamaan dengan penyuntikan hormone PGF2α dan bisa ditambah dengan penyuntikan 1 mg estradiol benzoat.

Tahap pelaksanaan lainnya adalah menjalankan prosedur Thawing Embrio menggunakan air hangat bersuhu 38 derajat Celcius. Teknik lain bisa dengan metode Aplikasi Transfer Embrio. Terakhir pemeriksaan kebuntingan. Dilakukan dua bulan setelah pelaksanaan aplikasi transfer embrio. (*/yog/ong)