RADARJOGJA.CO.ID – Pemerintah pusat dinilati tidak mengerti apa yang diinginkan masyarakat pedesaan. Penilaian ini disampaikan menyusul adanya faktra bahwa dana desa yang dikucurkan pemerintah hanya untuk pembangunan infrastruktur saja.

Padahal, yang dibutuhkan oleh masyarakat pedesaan bukan semata-mata infrastrutur melainkan untuk pemberdayaan manusia dalam mengembangkan nalar dan nalurinya. Selain itu, banyak yang menginginkan dana desa untuk peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM).

“Pemerintah tidak tahu kebetuhan desa. Itu dana desa banyak digunakan untuk pembangunan infrastruktur bukan untuk mengembangkan sumber daya manusianya. Penggunaan dana desa banyak salah sasaran,” kata Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Dr Sundani Nurono Suwandhi pada Seminar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat di Hotel Eastpark Jogja, Rabu (25/10). Acara ini dibuka oleh Wakil Rektor 4 UAD, Prof Sarbiran.

Menurut Sundani, kebijakan pemerintah dalam pengelolaan dan penggunaan dana desa telah dievaluasi. Kini, dana desa tidak sekadar untuk membangun infrastruktur namun untuk pemberdayaan masyarakat. Ia berharap, dana desa dapat pula diakses oleh para dosen di tanah air. Sehingga, perguruan tinggi dengan pemerintah desa dapat saling bekerjasama untuk mensejahterakan masyarakat.

“Pemerintah perlu memberikan akses kepada para dosen agar bisa ikut memanfaatkan dana desa tepat sasaran,” terangnya.

Disisi lain, selama ini, lanjut Sundani, pemerintah dinilai abai terhadap keberadaan dosen. Sebagai tenaga pengajar, dosen hanya diminta fokus berada di kampus, tidak diberikan fasilitas untuk menguji teorinya di tengah masyarakat. Buktinya, pemerintah tidak mewajibkan para dosen untuk melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Padahal, pemberdayaan sangat penting untuk menguji teori dalam kehidupan nyata di tengah masyarakat.

“Pemerintah membuat dosen menjadi manusia yang egois. Itu karena pemerintah tidak menghargai pengabdian masyarakat yang telah dilakukan para dosen, tidak diperhatikan,” tegasnya.

Karena itu, ia meminta kepada pemerintah, perguruan tinggi, dan dosen benar-benar melakukan tridarma yaitu pengajaran, penelitian atau pengembangan, dan pengabdian masyarakat. “Dosen jangan memikirkan dirinya sendiri. Tanggungjawabnya luas termasuk perannya ditengah masyarakat, mendidik masyarakat mandiri dan selalu berinovasi, meningkatkan keterampilannya,” paparnya.

Kepala LPM UAD, Jabrohim mengatakan seminar ini diikuti lebih dari 20 dosen dari belasan Perguruan Tinggi di tanah air. Dalam seminar ini ada 15 makalah hasil pengabdian masyarakat para dosen yang akan dipresentasikan. “Mereka yang akan mempresentasikan makalahnya merupakan para dosen yang menerima hibah dari Kemenristekdikti,” kata Jabrohim.

Ia berharap, seminar ini dapat menggugah para dosen ikut memajukan dan mensejahteraan masyarakat pedesaan. Apalagi, sebagain besar wilaayah Indonesia merupakan pedesaan.

“Semoga para dosen dapat merambah ke desa-desa untuk menstransformasikan ilmunya kepada masyarakat,” jelasnya. (mar)