Pemkab Sleman Pastikan Belum Terbitkan Izin

SLEMAN – Penyalahgunaan izin pembangunan gedung terus terjadi di wilayah Sleman. Kali ini ditengarai dilakukan pengembang Damai Internasional Islamic Living (DIIL). Tanpa izin lengkap, petugas marketing Damai Indo Properti berani menawarkan rumah susun bergaya apartemen (kondotel) kepada calon konsumen. Padahal, saat ini Sleman masih memberlakukan kebijakan moratorium hotel dan apartemen hingga 2021.

Sekretaris Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perijinan Terpadu (DPMPPT) Sleman Triyana Wahyuningsih memastikan belum ada izin diterbitkan untuk pembangunan DILL yang berlokasi di Jalan Kaliurang KM 12,5, Sardonoharjo, Ngaglik.

Pihaknya hanya menerima permohonan pemanfaatan ruang untuk didirikan islamic center dan pemondokan di atas lahan seluas 18.675 meter persegi. Oleh PT Damai Indo Properti. Bukan permohonan untuk membangun apartemen atau kondotel.
Pengembang DILL ditengarai menyalahi prosedur jika benar-benar berniat membangun apartemen.

“Kalau menawarkan seperti itu (apartemen, Red) berarti tidak sesuai izin yang dimohonkan. Apalagi saat ini masih berlaku peraturan bupati tentang moratorium apartemen dan hotel,” tegasnya kemarin (26/10).

Mengetahui adanya dugaan penyimpangan itu Triyana berencana melakukan klarifikasi kepada pengembang terkait. Sebab, iklan maket apartemen yang terintegrasi dalam islamic center sudah beredar di beberapa media sosial. Jika dibiarkan saja, hal itu dikhawatirkan bisa menyesatkan calon pembeli maupun investor bangunan tersebut.

Di sisi lain, belum adanya izin yang diterbitkan untuk pembangunan islamic center, pihak pengembang dilarang melakukan aktivitas apapun di lokasi proyek. Pengembang justru wajib memasang papan pemberitahuan ikhwal rencana pembangunan di kawasan tersebut. Hal ini guna menjaring aspirasi warga sekitarnya.

Dari pantauan Radar Jogja sudah ada aktivitas di dalam area proyek. Sebuah backhoe mini tampak terpakir di sisi selatan area. Alat pengeruk tanah warna ungu itu baru saja digunakan untuk membuat parit.

Sementara papan pengumuman yang terpampang di luar area proyek menyebutkan rencana pembangunan islamic center dan pemondokan.

Radar Jogja sempat menghubung nomor yang terpampang dalam brosur maket iklan media sosial. Brosur tersebut menyebut nama Rabbani sebagai contact person (CP). Namun saat dihubungi lewat telepon, dijawab oleh seseorang yang mengaku bernama Alfan. Dia mengklaim, proyek DIIL telah berizin. Bahkan, sudah ada 100 pemesan yang mendaftar.

Di hari yang sama Radar Jogja juga menghubungi Rahmawati, salah seorang petugas marketing Damai Indo Properti. Tanpa basa-basi Rahmawati mengakui jika konsep bangunan yang ditawarkan perusahaannya adalah rumah susun bergaya apartemen setinggi enam lantai. “Sama saja seperti properti lainnya. Tapi lebih eksklusif,” ujarnya. (dwi/yog/ong)