Polisi Yakini Pelaku KDRT Orang Tua Asuh Korban

SLEMAN – Polisi akhirnya menetapkan pasangan SSH,41, dan DA,34, sebagai tersangka penganiaya FR,5, sehingga mengalami gegar otak dan trauma. Penetapan tersangka dilakukan setelah penyidik mendapat cukup bukti untuk menjebloskan keduanya ke dalam penjara. Mereka diringkus di kediaman keduanya, Perum Kadirojo Permai, Sleman, Rabu (25/10). “Saat penangkapan tak ada perlawanan dari dua pelaku,” ujar Direktur Reserse Kriminal Umum Polda DIJ Kombes Pol Hadi Utomo kemarin (26/10).

Alat bukti yang digunakan penyidik salah satunya hasil visum korban dari rumah sakit. Korban mengalami luka lebam akibat benda tumpul. “Bisa dengan alat atau tangan,” jelasnya. Di tangan kanan korban juga ditemukan luka bekas gigitan.
Hasil visum tersebut, kata Hadi, mementahkan dalih para tersangka saat dimintai keterangan oleh pihak sekolah korban. Menurut Hadi, tersangka menyebut luka yang dialami FR akibat kena air kencing kecoa.

Dikatakan, kedua tersangka selama ini menjadi orang tua asuh korban. Orang tua asli FR berada di Jawa Timur. “Mereka (tersangka, Red) kerap dipanggi pakdhe dan budhe,” jelasnya.

Hingga kemarin penyidik belum mengetahui alasan pasti yang mendorong tersangka melakukan tindak kekerasan terhadap korban. Terlebih, berdasarkan keterangan pihak sekolah, korban merupakan anak yang cerdas dan supel. Bahkan, FR memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik. “Kami dalami lagi perbuatan para tersangka,” ujar Hadi.

Kini kedua tersangka harus mendekam di sel prodeo Mapolda DIJ untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Penyidik menjerat keduanya dengan pasal 44 ayat (1) atau (2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Keduanya diancam hukuman lima tahun penjara.

Terpisah, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) DIJ Sari Murti Widyastuti mengapresiasi gerak cepat aparat kepolisian dengan yang menaikkan status terduga pelaku penganiayaan sebagai tersangka. “Ini jadi bukti keseriusan polisi mengusut kasus KDRT,” katanya.

Selanjutnya, LPA DIJ akan memberikan pendampingan terhadap korban. Termasuk mendengar keinginannya. Terutama untuk kepentingan trauma healing yang dialami FR.

Seperti diberitakan sebelumnya, FR harus dirawat intensif di rumah sakit karena mengalami luka labam di wajah dan gegar otak ringan. Berdasarkan laporan yang diterima Polda DIJ, korban mengalami kekerasan oleh orang terdekatnya selama tiga tahun terakhir. Tanpa diketahui kesalahannya. (bhn/yog/ong)