JOGJA- Partai Golkar sedang prihatin. Partai politik warisan Orde Baru itu dirundung ba nyak masalah internal maupun eksternal. Kondisi itu membuat citra partai beringin menjadi ru-sak. “Citra partai terburuk akibat ulah elite yang serakah. Bukan karena akar rumput,”,” ungkap Ketua Musyawarah Kekeluargaan Go-tong Royong (MKGR) DIJ Gandung Pardiman.

Gandung mengungkapkan itu saat pelantikan pengurus MKGR DIJ di pendapa Gandung Par-diman Center (GPC) Karangtengah, Imogiri, Bantul, kemarin (29/10). Mereka dilantik Ketua Umum MKGR Roemkono. MKGR merupakan salah satu ormas yang mendirikan Golkar pada 20 Oktober 1964. Pendirinya, Kolonel Sugandhi, suami mantan Menteri Peranan Wanita Mien Soegandhi

Ketika Gandung menyebut perilaku elite yang serakah, ra-tusan anggota MKGR langsung menyahut. “Betul, betul,” teriak mereka kompak. Meski partainya tengah dalam keprihatinan, Gandung optimistis Golkar akan keluar dari krisis. Alasannya, kepercayaan dari masyarakat masih lumayan kuat. “Saya ba-ru saja berkeliling ke bawah. Banyak rakyat yang masih men-cintai Golkar,” ucapnya berapi-api.

Pria yang berulang tahun setiap 25 Februari itu masih ingat penga-laman pasca Reformasi 1998. Ketika itu partainya menghada-pi ujian berat. Beberapa elite partai dari lingkungan keluarga Cendana dan jenderal memilih keluar. Mereka kemudian men-dirikan partai baru.

Golkar juga menghadapi an-caman nyaris menjadi partai terlarang. “Ada 313 organisasi getol mendemo minta pembu-baran Golkar,” kenangnya.

Lantaran elemen partai solid, krisi berhasil dilewati. Saat Pemilu 1999, Golkar menjadi pemenang kedua. Krisis kembali datang pada 2001 ketika Presiden RI Abdurrach-man Wahid mengeluarkan dekrit.

Salah satu isinya menyatakan membubarkan Partai Golkar. “Dari matematika politik mes-tinya Golkar sudah tamat. Namun berkat lindungan Allah, Golkar bisa selamat. Pendiri Golkar itu para kiai,” katanya.

Tiga tahun setelah dekrit pem-bubaran partai, Golkar berhas-il menjadi pemenang pertama Pemilu 2004. Belajar dari penga-laman itu, Gandung mengajak anggotanya mengamalkan dokrin Pancamoral MKGR. Pancamoral itu seperti cinta kasih dan sayang serta kejujuran. Sikap jujur bagi Gandung penting.

Selama dua periode menjadi ketua DPD Partai Golkar DIJ 2004-2015, dia tak pernah memungut uang calon kepala daerah. “Tanyakan Pak Haryadi. Dulu pernah menyumbang ke partai, uangnya saya kembalikan,” tukasnya.

Kini ketua DPD Partai Golkar DIJ dijabat Wali Kota Jogja Ha-ryadi Suyuti (HS). Selama Gandung menjadi ketua, hubungannya dengan HS kerap diwarnai pasang surut. Bahkan saat Pilkada 2011 silam, Gandung memuji kehe-batan HS mendapatkan rekom-endasi dari partainya dan PDIP. Ayah tiga putra ini menyebut HS layak masuk delapan keajaiban dunia. Kala itu Gandung condong mendukung Hanafi Rais, calon wali kota dari PAN.

“Nglebur dosa. Jangan ada dusta di antara kita,” ucap ketua Dewan Pembina Partai Golkar DIJ itu.

HS yang naik ke podium setelah Gandung langsung mengklarifi-kasi. Dia menegaskan, selama ini antara dirinya dengan Gan-dung tidak pernah ada dusta. HS mengajak MKGR dan Golkar DIJ membangun soliditas demi ke-jayaan partai. “Kita harus kuat, solid, jaya, dan menang,” ucap suami Tri Kirana Muslidatun.

Kepada pengurus partai, HS wanti-wanti agar mereka tidak sekadar meminta anggaran. Namun yang lebih penting mampu men-jabarkan setiap kebutuhan yang diajukan. “Sing penting ora pating blasur (yang penting tidak kacau),” harapnya. (kus/ong)