Oleh :
Yasin bin Malenggang,
Pendiri dan Ketua SPINMOTION
PADA 9 Oktober 2017, BPPM (Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat) Provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) bersama P2TP2A KK (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan) Provinsi DIJ Rekso Dyah Utami, melakukan sosialisasi Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Permen PPPA) tentang Satgas PPA (Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak).

Hal ini diharapkan menjadi salah satu solusi untuk menurunkan tingkat kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia. Para Satgas PPA yang diangkat secara resmi sesuai wilayah kerjanya ini nantinya akan menjadi “tangan penjangkau, pelindung serta penyembuh” bagi para korban kekerasan terutama perempuan dan anak.

Dan dalam satu kesempatan selanjutnya, 20 Oktober 2017, SPINMOTION mengajak P2TPA KK dan Satgas PPA DIJ, bersama-sama menyuarakan tentang keberadaan Satgas PPA berdasar keputusan Menteri Yohana Yembise ini, melalui sebuah acara Bincang-Bincang dan Dialog Interaktif di Radio Republik Indonesia (RRI) Pro 1 FM Jogja.

SPINMOTION (Single Parents Indonesia in Motion) merasa perlu untuk terlibat langsung dalam upaya-upaya ini. Sebab, kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi di dalam rumah tangga atau KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) biasanya juga akan berujung pada perceraian.

KDRT pula yang menjadi salah satu penyebab terbanyak perceraian yang terjadi di negeri ini. Sebagai komunitas yang beranggotakan para single parents yang mayoritasnya adalah para “korban perceraian”, SPINMOTION sangat memahami permasalahan ini, yang mana dari berbagai kesempatan diskusi online melalui beberapa WhatsApp Group, kekerasan terhadap perempuan dan anak ini ternyata juga banyak terjadi sebelumnya pada diri anggota SPINMOTION, khususnya para single moms.

Bukan saja kekerasan fisik yang harus diterima, namun juga kekerasan verbal, psikis bahkan kekerasan ekonomi yang juga kerap menimpa para perempuan dan anaknya, sehingga akhirnya dengan sangat terpaksa perceraian dengan pasangannya pun akhirnya dipilih untuk menjadi jalan keluar dari nestapa keterpurukan ini.

Peningkatan perceraian di Indonesia dengan berbagai sebab yang biasanya diiringi dengan KDRT dari tahun ke tahun terus meningkat secara signifikan. Hal ini sudah menjadi perhatian berbagai kementrian dan lembaga hingga “kondisi darurat percerain” ditetapkan.

Dan kondisi ini sudah semestinya juga menjadi keprihatinan dan perhatian seluruh komponen bangsa, karena sudah menjadi pemahaman bersama bahwka ‘kokohnya sebuah bangsa, sangat tergantung pada kuat dan padunya keluarga atau rumah tangga sebagai bagian terkecil pondasi berdirinya bangsa dan negara ini’. Apa jadinya nasib bangsa ini, jika keluarga-keluarga Indonesia sudah menjadi sedemikian rapuhnya serta mudah goyah oleh pasang surutnya kehidupan.

Dan, Satgas PPA yang dibentuk dalam kapasitas sebagai pihak yang menengahi sekaligus menghindarkan kekerasan hadir dalam konflik rumah tangga, diharapkan juga mampu untuk memberikan pengaruh yang signifikan pada menurunnya angka kekerasan pada perempuan dan anak sekaligus juga bisa mengurangi angka perceraian di Indonesia.

Karena bagaimanapun juga perceraian sebaiknya dihindari dengan segala upaya, mengingat selain tidak dianjurkan oleh semua ajaran agama, perceraian juga menghadirkan dampak negatif bagi perkembangan psikologi, kestabilan emosi dan kematangan jiwa anak yang terlanjur dilahirkan dalam sebuah perkawinan yang terpaksa harus diakhiri.

SPINMOTION berkomitmen selain untuk menyuarakan penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia, juga selalu mengajak setiap pihak yang terkait untuk selalu menghormati lembaga perkawinan, menjaga kesetiaan terhadap pasangan, mencintai keluarga dan hindari perceraian.

Namun jika perceraian harus terjadi, minimalkan dampak negatifnya terhadap anak-anak dengan menjadi para single parents yang baik dan berkualitas. Oleh karena itu, SPINMOTION pun membuka diri bagi semua orang yang memiliki perhatian dan empati terhadap kondisi rumah tangga di Indonesia yang rawan kekerasan dan dalam darurat perceraian untuk berdiskusi melalui beberapa grup diskusi online melalui aplikasi WhatsApp Group.

Bukan hanya para single parents yang bergabung namun juga para relawan dan simpatisan, bahkan dari kalangan akademisi, seperti dosen dan mahasiswa. Silakan bergabung jika anda memiliki semangat solidaritas dan rasa empati bagi para single parents Indonesia dan anak-anaknya. (*/ila/ong)