Memasuki minggu-minggu menjelang helatan seni rupa Biennale Jogja XIV Equator 4 yang rencananya akan dibuka pada Kamis (2/11) di Jogja National Museum Jogjakarta, dalam sepekan terakhir terdapat beberapa fenomena di Jogja yang terceritakan dalam kilas agenda berikut ini.

1. Sesajian di Jalan

Kota Jogjakarta dengan segala keistimewaannya, memiliki begitu banyak keunikan. Kota yang terkenal dengan tradisi budayanya ini, kini dihadapkan dengan kebudayaan masyarakat milenial. Kondisi masyarakatnya sudah sangat berkembang pesat sejalan dengan perkembangan teknologi.

Beberapa tradisi sedikit demi sedikit sudah mulai terkikis. Seperti halnya sesaji. Sesaji memang erat dikaitkan dengan konteks bahasa rasa syukur atas limpahan rejeki dari Tuhan Yang Maha Esa. Adapun hal ini juga sebagai ungkapan untuk menolak dari datangnya bencana atau melindungi dari marabahaya.

Manusia memiliki caranya sendiri untuk dapat mengungkapkan rasa syukur dan kegelisahannya kepada semesta. Sejak jaman dahulu, bahasa ini ada dan memang diturunkan dari nenek moyang kita hingga menjadi sebuah tradisi. Tradisi ini yang sebenarnya sudah menepi secara perlahan karena arus modernisasi.

Seperti halnya dengan tradisi sajen yang diletakkan dibeberapa ruas jalan di kota ini. namun, Beberapa dari masyarakat sudah menganggap hal-hal yang demikian tidak lagi akrab di kehidupan mereka. Jika masih ada pun, hanya orang tua atau kalangan tertentu yang masih melestarikan ritual ini.

2. Reresik Sampah Visual

Kondisi kedua yang terlihat dari Kota Jogjakarta merupakan tebaran sampah visual. Sampah visual, objek ini sering ditemui di berbagai sudut tempat atau ruang secara nyata di kota ini. Tentu saja objek tersebut merujuk pada sebuah benda yang sengaja diletakan oleh sekumpulan orang yang tidak bertanggung jawab, di beberapa titik ruang kosong, yang dianggap layak dan terlihat di mata publik.

Beberapa lebar kertas saling tumpeng tindih, menutupi objek apa saja yang ada disekelilingnya dengan tujuan untuk menyampaikan informasi. Beberapa orang akhirnya memutuskan untuk melakukan reresik sampah-sampah visual ini di beberapa ruas jalan. Aksi ini merupakan respon dari tebaran sampah visual yang kian hari kian tak terkendali penyebarannya. Aksi kecil seperti ini dirasa menjadi langkah solusional untuk menghias kota Yogyakarta agar tetap mempesona, terlepas dari pandangan publik yang mengatakan sebagai aksi vandalism atau bukan. Tapi beginilah cara kesenian merespon persoalan yang ada disekitarnya.

3. Masihkah kita buang sampah pada tempatnya?

Selain sampah visual, cukup banyak juga sampah-sampah yang dibuang sembarangan. Sampah seperti beberapa hal yang terdiri atas beberapa benda (tak dianggap) tak terpakai. Tidak ada yang banyak dilakukan terhadapnya. Acuh, abai adalah sikap yang kita lakukan dan bentuk respon ketika kita dihadapkan langsung dengan objek tersebut. Bahkan, ketika berhadapan dengan pesan himbauan sekali pun, kita masih tetap abai.

Berbagai jargon “dilarang membuang sampah di sini”, “di sini bukan tempat sampah”, “jangan buang sampah di sungai”, hanyalah bahasa himbauan untuk kemudian dilihat. Tetapi kenyataannya, tak jarang untuk dilanggar. “Persoalan sampah memang sudah menjadi tanggung jawab pemerintah” begitu kebanyakan masyarakat menanggapi permasalahan ini, sehingga mereka seolah enggan untuk merespon lebih jauh tentang persoalan ini.

Namun berbeda halnya bagi para seniman. Seniman memiliki konsepsi tersendiri tentang bagaimana membahasakan sampah ke dalam suatu ungkapan tertentu melalui daya kreativitasnya. Entah ia akan menyadarkan masyarakat atau tidak, tapi setidaknya ungkapan ini secara tidak langsung, dapat memberi pesan kepada yang melihatnya.

Di beberapa kesempatan, ditemui beberapa olahan sampah seperti patung atau boneka khususnya di daerah tertentu, seperti Jalan Solo, Kawasan Pasar Beringharjo dan Pertigaan Terminal Giwangan, menjadi ruang penyalahgunaan pembuangan sampah oleh masyarakat. Patung boneka ini tediri dari kumpulan plastik yang digabungkan dengan tumpukan kertas, lalu kemudian diikat membentuk wujud 3 dimensi.

Tidak hanya itu, patung itu diberi warna agar terlihat seperti orang-orangan yang biasa terdapat di pinggiran sawah. Keberadaan orang-orangan tersebut, mungkin bisa jadi merepresentasikan sosok hantu, atau figur yang bergentayangan bagi orang yang melihatnya. Ia akan menghantui siapa saja yang akan menyalahgunakan tempat sebagai pembuangan sampah. Juga menjadi pengingat untuk kita semua bahwa tidak seharusnya kita membuang sampah yang bukan pada tempatnya.

4. Pak Ogah dan Penguasa Jalanan

Hal terakhir yang tak asing lagi bagi kita ketika melihat ruas-ruas utama jalanan Yogyakarta begitu padat memasuki jam-jam sibuk. Selain bunyi mesin kendaraan, suara klakson selalu mengiringi kebisingannya. Masyarakat yang dikenal ramah dan halus, bisa seketika menjadi ganas dan liar di jalanan dengan kendaraannya masing-masing.

Dalam situasi ini dibutuhkan peran apparat untuk mengatur kekacauan-kekacuan ini. Sementara aparat yang sudah digaji untuk melakukan tugas ini kerap abai, atau justru malah menugaskan orang lain, “Pak Ogah”. Berkat keabaian dari aparat ini, peran “Pak Ogah” terasa sangat berjasa, padahal jika dilaksanakan oleh yang sudah sewajarnya berkewajiban tentunya jadi biasa saja. “Pak Ogah” yang mengatur lalu lintas Jogja di jam-jam sibuk ini seketika dapat menjadi penguasa jalanan atas kekacauan. Dengan seragam dan peralatan seadanya, kendaraan-kenadaraan berpacu tinggi ini mematuhi himbauan untuk berhenti atau jalan terus. Nyatanya memang jika diatur dengan baik, toh pengendara jalan bisa teratur juga. (nn)