JOGJA – Pengurus DaerahIkatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI)DIJ siap menerima keputusan Pengurus Besar Ikatan Sepeda Sport Indonesia (PB ISSI) terkait pembatasan usia atlet pada PON 2020 di Papua mendatang. Meskipun dengan konsekuensi harus mulai mempersiapkan pembalap-pembalap muda sejak saat ini.

Ketum Pengda ISSI DIJ Wawan Hermawan juga mengaku tidak khawatir sebab DIJ memiliki atlet muda potensial yang bisa diandalkan. Karena itu pihaknya mulai bekerja keras memaksimalkan kesiapan atlet. Mengingat DIJ belum memiliki sekolah olahraga. Sementara saat ini yang ada baru kelas khusus olahraga. “Kurikulumnya belum menunjang. Kami harus bisa menyiasati ini agar atlet kami bisa maksimal,” katanya kepada wartawan, kemarin (30/10).

Seperti diketahui, regulasi baru sudah ditetapkan untuk cabang olahraga balap sepeda dalam PON tiga tahun mendatang. PB Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) memutuskan bahwa cabor balap sepeda hanya bisa diikuti atlet U-21.

Wakil Ketua Umum PB ISSI Muhammad Beny Subagya mengatakan, keputusan tersebut menanggapi masukan beberapa provinsi yang menginginkan agar cabor balap sepeda diikuti atlet U-21. Hal itu dinilai sangat positif untuk mendorong proses pembinaan atlet usia muda.”Kalau ada yang sudah ikut PON sekali, pada PON berikutnya sudah tidak bisa lagi. Ini sudah disepakati, pada PON 2020 di Papua atlet balap sepeda hanya U-21,” jelas Beny.

Sehingga dengan ketentuan tersebut maka daerah yang telah melakukan persiapan secara intensif dapat merasakan hasil dari pembinaan tersebut. Menghindari atlet binaan justru dimanfaatkan daerah lain yang memiliki dana besar.”Biasanya muncul istilah transfer atlet. Daerah sudah melakukan pembinaan maksimal, tiba-tiba diambil daerah lain yang punya duit banyak. Tapi besok tidak bisa begitu lagi,” paparnya.

Selain itu, dengan adanya pembatasan usia diharapkan akan banyak memunculkan atlet-atlet muda berbakat. Di samping itu persaingan akan lebih merata dan tidak didominasi atlet senior yang sudah berpengalaman.Sedangkan bagi atlet senior bukan berarti kariernya akan terhenti. Kendati tidak turun di PON, atlet masih bisa bergabung dengan klub dan bertanding atas nama klub. Mengingat saat ini banyak klub yang tumbuh dan bisa menjadi sandaran atlet.

Banyaknya event yang digelar termasuk yang berskala nasional maupun internasional juga bisa menjadi arena menjajal kemampuan. Seperti Tour de’ Indonesia, Tour de Singkarak, Tour de Sulawesi, Ambon dan lainnya. “Tahun depan kami rencananya akan menggelar Tour de Indonesia,” bebernya. (riz/din/ong)