JOGJA – Pelaksanaan reresik Malioboro tiap Selasa Wage, yang digelar kedua kalinya kemarin (31/10), kembali disambut meriah. Selain komunitas di Malioboro, beberapa sekolah juga turut ikut dalam kegiatan tiap 35 hari itu.

Salah satunya SMAN 1 Jogja, yang kemarin merayakan lustrum 60 tahun, bersamaan dengan gerakan Selasa Wage di depan Kepatihan Jogja. Bahkan salah satu alumninya, Haryadi Suyuti yang juga Wali Kota Jogja, turut hadir.

Dalam kesempatan tersebut, HS, sapaannya, bersama alumni lainnya menanam satu pohon gayam di Malioboro. “Lustrum SMA Teladan (SMAN 1 Jogja) di Malioboro ini menunjukkan jika SMA bukan hanya untuk alumni tapi semua warga,” ujar alumnus tahun 1983 itu.

Saat memberikan sambutan di atas panggung, HS sempat memerintahkan mobil Satpol PP Kota Jogja yang terparkir di sisi barat Malioboro untuk pindah. HS tegas mengatakan semua kendaraan bermotor tidak boleh berhenti di sisi barat Malioboro. Tiap Selasa Wage, lanjut dia, bahkan pengemudi andong dan becak juga ikut libur.

“Selasa Wage ini bukan prakarsa Pemkot Jogja tapi komunitas agar Malioboro istirahat sehari,” jelasnya.

HS menambahkan kegiatan Selasa Wage, meski baru digelar kedua kalinya, sudah menimbulkan semangat masyarakat dan komunitas di jantung Kota Jogja itu untuk mengistirahatkan Malioboro sehari. Menurut dia, kebersamaan antara masyarakat dan pemerintah tersebut yang akan dipertahankan dengan terus melaksanakan aksi Selasa Wage.

“Yang menilai sukses tidak itu masyarakat, tapi kami komitmen untuk terus menggelar Selasa Wage,” ungkapnya.

Tapi ketika ditanyakan pengembangan pelaksanaan Selasa Wage, HS menyebut tantangan berikutnya untuk membuat Malioboro yang aman, nyaman, dan tertib. Di antaranya, HS meminta adanya penambahan atraksi wisata dan budaya tiap Selasa Wage. “Supaya masyarakat tidak kehilangan Malioboro sebagai roh Jogja,” tuturnya.

Sementara itu, pedagang kaki lima (PKL) yang berada di sekitar kantor Dinas Pariwisata DIJ terlihat dengan mengecat ulang tembok dan pagar di sekitar lokasi berjualan.

Salah seorang PKL, Sulardi mengaku, rela mengeluarkan uang dari kantong pribadinya untuk membeli cat sendiri. “Pagarnya kan juga sudah kusam dan saya yang berjualan di sini,” ujar pria yang mengaku sudah berjualan sejak 1988 itu.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Jogja Yunianto Dwi Sutono menambahkan tujuan awal dari gerakan Selasa Wage adalah untuk mengistirahatkan sehari Malioboro, yang diganti dengan kegiatan bersih-bersih. Dia berharap, nantinya reresik Malioboro tersebut menjadi kebiasaan dan tidak hanya dilakukan tiap Selasa Wage saja. “Tiap komunitas di Malioboro sudah tahu tanggung jawab masing-masing,” ujarnya. (pra/ila/ong)