BANTUL – Tumpukan sampah di salah satu sudut tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) Piyungan kemarin (2/11) terbakar. Kebakaran yang belum diketahui penyebabnya ini terbesar sejak sepuluh tahun terakhir. Kebakaran paling besar di lokasi itu terjadi pada 2007.

Kobaran api diketahui sekitar pukul 10.00. Titik api muncul di atas tumpukan sampah yang menyerupai tebing. Tak pelak, puluhan pemulung yang berada di sekitar lokasi langsung berhamburan. Mereka panik lantaran khawatir insiden ini mengakibatkan munculnya gas berbahaya.

“Api sudah besar. Membakar tumpukan sampah setinggi dua meter,” jelas Rukijo, seorang pemulung yang memungut sampah di sekitar titik kebakaran.

Para pemulung sempat berusaha memadamkan kobaran api dengan alat seadanya. Hanya, upaya ini menemui banyak kendala. Sebaliknya, api justru cepat menjalar ke titik lain lantaran tertiup angin kencang. Apalagi sebagian besar objek yang terbakar berupa sampah kering. Di sisi lain, pemulung kesulitan menuju ke titik kebakaran lain ini. Sebab, akses jalan terhalang saluran resapan air. “Area terbakar memanjang sekitar 15 meteran,” sebutnya.

Ketika disinggung penyebabnya, pria yang bertahun-tahun memulung sampah di TPST ini tidak mengetahuinya. Dia menduga sumber api berasal dari puntung rokok atau ledakan korek api bekas.

Petugas pemadam kebakaran (damkar) Bantul Hamdani mengakui proses pemadaman cukup sulit. Terjalnya medan menuju ke titik kebakaran sebagai penyebabnya.

“Kami harus pakai alat berat untuk membongkar tumpukan sampah,” katanya.

Butuh waktu hingga lima jam petugas damkar memadamkan api. Petugas mengerahkan dua unit armada damkar plus lima unit mobil tangki. “Kebakaran 2007 butuh lima hari untuk memadamkannya,” kenangnya.(zam/ong)